Dhodhy Site.
to Share my Adventure and Life

Gowes cantik

saya dengan EL



Gowes, siapa yang nggak pernah?

Orang bilang ini adalah olahraga yang menyenangkan dan bahkan beberapa orang menjadikannya transportasi alternatif untuk menuju ke satu tempat. Gowes memiliki arti yang sangat banyak dan salah satu yang paling mudah kita pahami adalah mengayuh. Gowes adalah hentakan kaki pada pedal yang kemudian membuat irama sehingga tercipta harmoni indah dalam alunan melodinya. Gowes lebih merujuk pada aktifitas yang menguras tenaga di era yang serba cepat ini. Jika kita bandingkan dengan kendaraan bermotor, gowes sangatlah tidak efektif, tunggu dulu... itu bagi mereka tapi tidak pada goweser.

Kali ini, saya akan memberikan tips gowes cantik. Apa itu gowes cantik? istilah ini saya ambil dari kumpulan bahasa jawa. Bagi saya Cantik adalah :
C : Cermat
A : Ati-ati
N : Narimo
T : Tegen
        I : Ingsun
          K : Kuasa
apa maksudnya?


  • Cermat


Cermat adalah Teliti sebelum dan saat melakukan sesuatu. Cermat itu penting, misalnya kita mau gowes hal yang paling utama harus kita lakukan adalah meneliti sepeda kita apakah layak atau tidak. Misalnya jika kita ada rencana gowes jarak jauh Jakarta - Semarang yang bisa menempuh jarak 460-500 km dengan perkiraan waktu dengan kecepatan normal 130-150 km/hari ini akan menempuh minimal 3 hari. Sudah siapkah sepeda kita? bannya gimana? remnya gimana? tas panniernya gimana? lampu senternya gimana dll.

Bukan hanya pada sepeda, kita juga harus cermat pada diri kita sendiri. Cermat yang bagaimana? cermat yang jujur akan kemampuan diri kita saat itu. Kita ada rencana gowes Jakarta - Semarang tapi kita baru sembuh dari sakit, apa kita tetap harus pergi?


  • Ati-ati
Setelah kita cermat dengan sepedanya, peralatannya dan diri kita sendiri, dalam sebuah kegiatan gowes perlu adanya ke ati-atian. Ini sangat penting, karena tidak akan sampai kita pada satu tempat jika kita tidak mampu untuk berhati-hati.


Ban pecah/bocor
  • Narima
Narima atau narimo dalam bahasa Indonesia adalah Menerima. Narima yang saya maksud adalah siap menerima apapun yang terjadi di sebuah perjalanan. Gowes adalah perjalanan yang sangat tidak bisa diprediksi. Kita bisa mencoba membuat sebuah rencana untuk sebuah perjalanan yang indah, namun apa yang terjadi belum tentu sama. "Narima apa ingkang sampun dados panggarisipun Pangeran ingkang Saha Ageng" = menerima apa yang sudah digariskan oleh Tuhan YME, adalah salah satu jalan terbaik untuk sebuah perjalanan indah.

Narima konteksnya lebih ke bersyukur apapun yang terjadi diperjalanan, kadang indah lebih indah dari intan kadang lebih buruk dari kenangan masa lalu. Gowes akan menjadikan anda mengerti, kehidupan yang terkadang terlewatkan oleh kita saat menggunakan transportasi lain. Kita harus menerima itu, apapun itu. Kadang kalian akan melihat lebih dekat bagaimana seorang manusia hidup dibawah kolong jembatan, atau mungkin tiba-tiba kalian mendapat minuman gratis dari pembeli di warung kalian singgahi. Kalian harus siap menerima itu, cerita yang sulit untuk terulang diwaktu yang berbeda.

  • Tegen
Tegen dalam Bahasa Jawa juga berarti jejeg. Dalam Bahasa Indonesia ini dapat diartikan tegak dan tidak goyah. Tegen itu kadang berarti juga kalian benar-benar siap untuk bersepeda bukan cuma karena bisa tapi kalian mampu untuk melakukan itu. Tegen biasanya lebih ke kemampuan kalian saat melewati rintangan tak terduga. Misal saat kalian lewat pembatas sawah, atau pinggiran irigasi yang terkadang membuat mereka yang tidak tegen bakal jatuh. Mungkin tegen adalah tingkatan menggunakan sepeda dari pemula hingga mahir.

Se-safety mungkin
  • Ingsun
Ingsun adalah niat, untuk apa perjalanan kita, untuk apa kita berlelah diri, untuk apa kita meninggalkan satu tempat menuju tempat lainnya? ini adalah ingsun. Niat awal akan mempengaruhi sebuah perjalanan, misalkan kalian memiliki rencana touring dari Jakarta ke Semarang yang kurang lebih menempuh waktu 4 hari, ya niatkan kalian "sampai di semarang hari..... jam.... untuk ini...." bagaimana niat kalian akan mempengaruhi perjalanan kalian. jika kalian ragu dengan niat kalian, kalian akan ragu juga dengan perjalanan kalian
  • Kuasa
Kita sampai di Cantik yang terakhir yaitu Kuasa. Kuasa adalah kehendak, kehendak siapa? kehendak Tuhan Yang Maha Esa. Kalian telah melakukan semuanya CANTI tanpa K kalian tak akan mempu mencapai apa yang kalian Ingsunkan. Semua tidak lepas dari kuasa-Nya, dan biasanya goweser merasakan perjalanan spiritual saat melakukan perjalanan jauh.

Sebuah kegiatan bersepeda adalah kegiatan sederhana yang siapapun mampu melakukannya jika dia mau. Saya pernah menonton sebuah video seseorang melakukan perjalanan dengan satu kaki, dan itu membuat saya yakin semua mampu. Tetaplah bersepeda dan jadikan sepedamu menjadi dirimu. Tanpanya engkau hampa, tanpamu dia bukan siapa.




@2017, copyright Jejak Si Dhodhy
  •  
  • 0
  • November 15, 2017
Odhy Odhy Author

Gunung Penanggungan - kangen

Keindahannya lebih nyata dari yang orang ceritakan
Menjalani rutinitas seperti biasa kadang menjadikan seseorang merasa jenuh. Ini yang saya alami, mulai merenung sendiri, bicara sendiri... mungkin sudah mulai gila kayaknya hahaha
Hari itu pas Idul Adha, ya saya masih jadi anak kosan yang setia banget sama kosan. Dari usai Sholat Eid sampai Jumatan nggak ada






kegiatan apapun, nanti seusai sholat jumat ada tugas bagi-bagi daging Qurban sih, lalu habis itu? hah.. mulai jenuh lagi kan

Lirik kanan, kiri, atap tembok semua... OMG, mungkin gini rasanya burung tinggal di kandang...
Tapi ada satu benda yang membuatku melirik lebih lama dan seakan berbicara dengan benda itu "Kau ini belum pernah maen kotor-kotoran sehabis DLT, Pergi nggak...?" Kemudian lirik mata ke arah Pegagus 3, mulai buka-buka Mbah Google, buka Maps... "Sip, ini aja.. Oi... siap kan? kita jalan kali ini" (sambil lirik si merah).

Hari itu masih sekitar pukul 10 pagi, masih ada 1,5 jam sebelum jumatan. Mulai cek Tenda, Pakaian ganti, kompor, nesting, matras, air, P3K, tali prusik 4 mm, topi, kompas, sendal, jaket... yups udah semua. Packing, dan.... "Ni tenda Pasaknya kemana ya..." Sedikit putus asa rasanya. Udah nggak apalah, entar nyari jari-jari motor aja di bengkel. Nggak terasa sudah hampir jam 11.30, Bergegas mandi, pakai sarung, Baju Rapi, cusss masjid.

Seusai Jumatan, saya kembali ke kosan sejenak untuk ganti pakaian. Hari ini saya ada tugas membagi daging Qurban. Pukul 15.30 seusai sholat Ashar daging mulai dibagi. Sekitar 30 menit semua danging sudah ludes terbagi. Saya berbincang dengan Mas Adi
D: "Mas, nanti ada acara nggak? besok juga sih"
A: "Nggak ada Mas, kenapa?
D: "Ayo naik Gunung Penanggungan Mas"
A: "Loh, kapan Mas?"
D: "Yo sekarang Mas"
A: "Yaudah ayo" 
Akhirnya ada temen, Saya sama sekali belum pernah naik gunung dan saat perjalanan ke Tamiajeng (Jalur Pendakian Gunung Penanggungan) saya baru tau kalau Mas Adi juga belum pernah naik gunung. Kami mampir di mini market untuk beli Air dan sedikit cemilan. Dengan modal GPS Google Maps akhirnya sampai juga di Pos Tamiajeng.

Parkir di sini Rp 10.000, bayar dimuka. Lalu ke Pos Pendakian untuk laporan izin pendakian malam itu. Hanya tulis nama + bayar masuk 10rb/orang kami mendapat izin masuk. Sebelum masuk, kami mendapat arahan dari petugas mengenai rute dan aturan-aturan yang harus kami taati. Kalian harus menyiapkan 2 botol air/orang untuk pendakian Gunung Penanggungan. Di sini tidak ada sumber air kecuali di pos Pendaftaran.

Kami tidak langsung naik, mengisi perut di warung dengan Nasi+mie goreng+teh hangat. Sekitar pukuk 23.00 kami baru memulai pendakian. Sebelum kami naik,ada beberapa rombongan besar yang naik jadi kami pikir, akan serasa terlalu ramai jika kami berangkat saat itu. Saat diperjalanan, kami sempatkan mencari batang bambu kecil untuk pasak tenda nantinya.

Pos 1 ke Pos 2
Jalurnya masih landai, bahkan turun. Jalurnya berbatu, mesti berhati-hati karena jika jatuh pasti sangat sakit. Satu senter yang kami nyalakan hanya untuk berhemat sebenarnya. Tidak begitu lama kami sampai di Pos 2 berhadapan dengan warung-warung tutup malam itu. Kami tidak berhenti di sini, jalur masih panjang karena masih panjang untuk sampai di Puncak Bayangan.

Pos 2 ke Pos 3
Jalur mulai agak menanjak, tapi belum ekstreem. Masih cukup landai, bahkan ada jalan yang sudah tertata rapi untuk dilalui. Kontur jalan, tanah dan menurut saya jika hujan akan sangat becek. Sebelum Pos 3 kami berhenti sejenak untuk ngobrol dan minum. Ada rombongan yang sempat kami lewati, kini gantian menyalip kami. "Amit Mas" khas banget lah... hehehe (maaf ya kalau saya norak). Kami lanjut ke Pos 3 lalu beristirahat sejenak. Ternyata rombongan ini dari Jombang, anak pondok yang lagi liburan. Mereka udah pernah naik ke beberapa gunung (Kalau jauh saya... hahaha).

Keindahan lain Gunung Penanggungan
Pos 3 ke Pos 4
Secara tidak langsung mereka mengajak kami untuk bareng. Kami tidak menolak dan tidak juga menerimanya, tiba-tiba aja berjalan dalam rombongan cukup besar. Mereka sebenarnya cukup ramah, tapi bagi saya mereka terlalu berisik. Kami berhenti di pos 4, cukup lama di sini. Perbincangan mereka lebih ke guyonan remaja jaman Now yang tak tau etika. Mas Adi mengajak saya melanjutkan perjalanan, ternyata mereka juga lanjut.

Saya, Tenda dan Gunung Penanggungan di Puncak Bayangan
Pos 4 ke Puncak Bayangan
Mereka mulai berhenti lagi padahal belum ada 10 menit berjalan, saya dan Mas Adi memutuskan untuk terus melangkah. Pemandangan malam itu cukup indah bagi saya karena bintang, bulan dan kota kecil di selatan Gunung Penanggungan tampak gemerlap lampunya menampakkan suasana yang berbeda dari hari-hari biasanya. tidak ingat berapa lama kami berjalan, tapi ini cukup terjal hingga sampai ke puncak bayangan. Di sini kami hampir tidak memiliki lahan untuk mendirikan tenda, semua sudut terpenuhi tenda warna-warni. "Mas di sini aja, nanti saya yang atur. Mas Adi masuk pas tendanya sudah jadi, istirahat duluan aja nanti", ucap saya. 10 menit tenda telah berdiri tanpa pasak, iya tanpa pasak. Apa kalian ingat, di awal saya cerita bahwa saya tidak bawa pasak dan hanya menggunakan ranting bambu? di sini saya baru membuat pasak. Semua barang saya masukan, tapi saya tidak bisa tertidur karena takut telat subuh. Bikin kopi, dan menikmatinya sembari memandangi langit nan indah.



Puncak Bayangan ke Puncak
Sebenarnya Mas Adi ingin berburu matahari terbit, tapi dia malah terlelap lagi setelah subuh. Saya membuat mie untuk kami makan, sedikit mengelap muka dengan tisu basah dan cus ke Puncak. Kami berbekal biskuit dan 3/4 botol 1,5 liter air minum, serta barang yang tak pernah lupa untuk dibawa yakni P3K. Diperjalanan kami sebenarnya bisa sampai lebih cepat, namun ada rombongan kecil yang mungkin sedikit membutuhkan pertolongan kami. Bukan bermaksud sok pahlawan, kami menemani mereka hingga puncak begitu juga Mas Ihsan dan temannya (lupa namanya).
Rutenya berbatu dan pasir, bahanya jika ada batu jatuh seakan kayak di film 5cm. 1,5 jam kita sampai di puncak dan duduk berbincang dengan Mas Ihsan. Sempat ada seorang trail runner ke puncak dan kami sempat minta tolong di fotoin, masnya ramah dan humoris.
Gambaran Puncak sih penuh dengan rumput, ilalang, berpasir, ada cekungan di tengahnya serta ada sebuah makam di cekungan itu. Dari puncak kita bisa melihat gagahnya Arjuna, Welirang bahkan tampak dibalik awan sosok Semeru yang perkasa.

Ini adalah pertama kali saya benar-benar naik gunung dan sampai di puncak. Bagi saya, tidak heran begitu banyak orang ingin menikmati nikmatnya berada di atas sana, menurut saya prosesnya lebih menarik untuk dinikmati.
Note : kami turun jam 12.15, sampai bawah mungkin sudah jam 15.15an.

Bendera di puncak Gunung Penanggungan (Mas Ihsan dan Mas Adi)
dari kiri : Mas Adi, saya, Mas Bayu, Mas Ihsan
Nggak kenal bukan berarti nggak bisa senyum bareng
Puncak Gunung Penanggungan dengan view Gunung Arjuna + Welirang

Foto Lainnya : Klik di sini

@2017, copyright Jejak Si Dhodhy
  •  
  •  
  • 0
  • October 14, 2017
Odhy Odhy Author

Krawak tuban - sumber air alami

Minggu, 6 Agustus 2017

Hari yang cerah pagi ini setelah pejalanan 4 jam kemarin sore dari Sidoarjo ke Tuban (rumah saya). Hari ini saya ada agenda untuk bersepeda/GOWES ke salah satu destinasi wisata di daerahku. Saya terakhir ke sini saat saya masih sekolah menengah pertama sekitar sepuluh tahun lalu. Setelah mengantar ibu ke pasar untuk berbelanja, mencuci sepeda dan sarapan saya memulai perjalanan ini.

Doa pagi ini saya berharap ada cerita indah yang dapat ku bagikan nanti. Pannier belakang sudah siap di sepeda, saya membawa kaos ganti, handuk, nesting, kompor, air dan kopi. Pisau dan tali perusik saya taruh di bagian luar. Saya harus bergegas sebelum cuaca semakin panas, karena jalan yang akan saya lalui sebagian besar di daerah persawahan.






08.45 saya mulai perjalanan saya, berpapasan dengan teman-teman saya. Saya menyusuri desa saya sekitar 5 menit lalu masuk ke area persawahan. Cuaca sangat cerah pagi ini, hampir tidak ada pemandangan lain selain sawah dan pegunungan kecil di sisi utara. Akhirnya saya sampai di desa Laju Kidul, jalanan sedikit lebih pelan saat melewati pasar menuju pertigaan Bakalan.
selepas itu, jalan sedikit menanjak -+ 200meter. terus mengayuh melewati pom bensin, persawahan lalu berjumpa dengan perempatan. di sini saya memilih lurus, sebenarnya ada dua jalur yang bisa di lalui, kiri atau lurus namun pada umumnya masyarakat memilih kiri ke arah Tuban. Saya lurus hingga masuk wilayah pasar Jojogan, dari sini saya belok ke kiri. Jalan naik curam,200 meter sebelum sampai di jalan raya Tuban - Singgahan saya memutuskan turun untuk berjalan kaki menuntun sepeda saya.

Saya menepi ke warung es sekitar 15 menit lalu melanjutkan perjalanan, jalanan datar kemudian naik turun melewati Air Terjun Nglirip, lanjut lagi kurang lebih 1,5 km masuk ke wilayah hutan. Setelah perbatasan Singgahan - Montong, ada jalanan turun di kanan jalan, saya masuk dengan sangat pelan. Mencari tempat yang bisa saya gunakan untuk parkir sepeda, dan setelah sepuluh tahun akhirnya saya ke sini lagi.

Saya melihat-lihat untuk mencari spot menaruh tas dan membuat kopi. saya mulai turun ke air, merasakan segarnya. kompor saya nyalakan untuk membuat kopi. setelah perjalanan satu setengah jam ku lalui semua terbayarkan. Tinggi air hanya 1 meter, tapi ini sangat segar untuk berenang.



Tiket Masuk = Gratis
Parkir Sepeda Motor = Anda cukup membeli jajanan di warung

Note : Sekarang ada wahana tubing di sini...
#Tuban

#VisitTuban
#VisitTuban2017
#EastJava
#JawaTimur


@2017, copyright Jejak Si Dhodhy
  •  
  •  
  • 0
  • September 25, 2017
Odhy Odhy Author

Gowes jarak jauh (jakarta - subang)

Pagi itu, 31 Desember 2016 perjalanan ini bermula dari rencana tahun baru yang beda dari tahun-tahun sebelumnya. Ke mana Hamdi? Dia lagi pergi ke kampung halaman...

Agak telat, atau mungkin sangat telat... Kita mulai berangkat pukul 7 pagi saat matahari sudah memberikan kehangatan. Target kali ini adalah Subang, apa yang akan kita lakukan di sana? Hanya Hana yang tau. Masih seperti sebelumnya, Blacksun (Sepedaku) telah siap memulai petualangan ini. Tas belakang sudah terpasang, P3K air dan pakaian ganti serta alat-alat sederhana sepeda sudah bergelantung di stang.

Rute pertama Rawasari-Haji Ten-Kawasan Jeep - Klender. Pagi ini kita belum sarapan, saya mengatakan pada Hana paling lambat jam 8 kita harus makan. Mungkin kita ada di sekitar Klender. Sebelum jembatan Klender, kita berhenti untuk sarapan. Saya sudah mempelajari rutenya, ini perjalanan yang kering/panas dan pasti butuh banyak tenaga. Seusai sarapan kita menuju ke selatan arah Kalimalang.

Kalimalang jalur ekstreem yang sering terjadi hujan abu (hanya istilah), sekitar setengah jam perjalanan sampai di Bekasi. Berhenti berhenti untuk minum, lalu langkah kami menyusuri arah Cibitung. Hana tiba-tiba berhenti saat ada penjual jaket berjejer di sepanjang jalur ini. Perjalanan masih panjang, Hana membeli jaket.

Cuaca sangat terik, perjalanan berlanjut hingga perempatan Cibitung kita berhenti melihat Maps. Jalur yang akan kita lalui masih lurus ke arah Jababeka. Saya benar-benar buta arah, tapi perkiraan saya jalurnya akan sangat panas. Sesuai perkiraan, jalanan sangat panas Hana berhenti beberapa kali untuk minum, kita sampai di perempatan Cikarang.

Di sini kejadian salah jalur dimulai, nggak fatal bagi pengguna motor tapi goweser ini sangat parah. Kita masuk ke Jababeka, menyusuri jalan yang isinya pertokoan, rumah mewah, sekolah dll. Saya sudah agak lupa apa saya yang saya lihat, di sini kita berhenti sejenak untuk minum dan beristirahat. Saya melihat Google Maps, selanjutnya Stadion Wibawa Mukti lalu masuk ke tepian kali malang lagi.

Jalur ini serasa tanpa akhir, kita mulai melihat Stadion Wibawa Mukti. Megah, tapi cukup panas karena kurangnya pepohonan. Hampir sama dengan Stadion Pakansari keadaannya masih belum 100% sepertinya. Dari sini kita terus ke sisi selatan stadion kemudian masuk ke perkampungan.
Hana memberi kode bahwa dia sudah lapar, kami berhenti di sebuah Warteg (Warung Tegal). Menyusuri jalan ke Karawang masih sangat jauh, sangat sangat amat sangat. Saya sering melihat Google Maps di perjalanan ini untuk memastikan jalur yang kami lalui benar karena saya tidak mau waktu dan tenaga kami terbuang.

Saya menggunakan mode pejalan kaki, ternyata ini salah karena kami salah jalur. Kami melewati jalan setapak yang tidak memiliki jalur untuk sepeda kami lewat. Kembali ke arah jalan raya melalui jalur lain yang membuat kami kembali ke tepian kali malang. Jalur ini sangat panas, menghindari ban bocor saya mengurangi sedikit angin sepeda. Cukup lama kami gowes di sini hingga melihat sebuah perbatas yang menandakan kami masuk wilayah Karawang.

-- Es Kelapa yang menyegarkan
Sangat jauh atau mungkin karena pengaruh panas yang sangat menyengat? Entahlah tapi ini serasa sangat jauh. Saat diperjalanan saya melihat banyak warga sekitar yang menggunakan mobil pick up bak terbuka sebagai alat transportasi masal. Mungkin ini adalah salah satu alternatif transportasi yang ada dengan jarak ke kota lumayan jauh, baik ke Bekasi maupun ke Karawang.

Setelah singgah kurang lebih 15 menit, kami melanjutkan perjalanan. Kembali menyususri jalanan kota Karawang, kami sampai di sebuah jembatan yang agak panjang. Setelah jembatan kami belok kiri di sebuah pertigaan, hari mulai petang dan kemi belum sholat ashar. Kami berhenti untuk sholat ashar dan melihat-lihat peta beberapa kali untuk memastikan masih berapa jauhkah jarak yang akan kita tempuh. Kami masih sangat jauh dari Subang, meski hanya pinggirannya. Tapi ini adalah perjalanan paling menarik yang pernah saya lakukan, datang ke satu tempat yang biasanya saya laualui dengan kereta atau bus, kini saya melewatinya dengan sepeda. Mungkin saya agak gila dengan perjalanan tanpa tujuan ini.

Setelah mengayuh setengah jam, Hana mulai tampak lelah. Saya memutuskan untuk berhenti membeli Pocari Sweat, nggak tau kenapa ini serasa tenaga super atau mungkin pil dewa milik Son Goku yang sudah dicampur dengan ramuan dari ayahnya ChiChi. Kita terus mengayuh, masuk wilayah Cikampek, melewati stasiunnya dan mulai teringat sesuatu. "Biasanya naik kereta sampe sini 2 jam". Berlanjut lagi dan sesekali beristirahat, tidak ada yang cukup indah pemandangan di sini karena ini adalah jalur ramai Pantura. Sesekali minggir karena klakson Bus yang seakan menguasai pantura.

Kami mulai masuk wilayah Karawang, iya anda tidak salah baca ini adalah karawang ke dua. Kalau tidak salah, ini adalah Karawang Timur. Perjalanan terhenti kalai maghrib di sebuah mushola milik SPBU. Mengintip Maps "OMG" hahaha... udahlah ini gila, kayaknya perjalanan ini tak pernah sampai. Saya mulai memperhatikan Hana, dan sesekali bertanya "Han, lanjut nggak, kalau lanjut duluan" Ini karena sepeda hanya tidak memiliki reflektor sehingga berbaya jika ada kendaraan dari belakang. Dan dan dan, kami masuk wilayah Subang... Thank God

Tapi ini belum tujuan kita, Hana sudah mulai menyerah. Saya menghubungi Bagus yang kebetulan sedang ada di Cikampek, "Gus Posisi, Numpang nginep nih" dan tak lama kemudian dia membalas "Rumah Nenek gw, yaudah sini gih....(sambil shareloc)".... "Oke OTW, 1 jam"... "Siap"... Yups, saya bilang ke Hana untuk balik arah. Bukan tidak beralasan, tapi karena itu adalah satu-satunya cara untuk bisa tidur malam ini selain di POM ataupun Masjid. Kami sampai di rumah neneknya Bagus jam 10 malam, dengan wajah terheran-heran orang tuanya berkata "Gus nggak ikut, biar kurus"

Intinya malam itu kita menginap di Rumah Neneknya Bagus, keesokan paginya mulai berbenah dan melihat-lihat sawah yang sangat jarang terlihat di Jakarta. Udara pagi sangat sejuk khas Perdesaan. Kami tidak berencana pulang buru-buru tapi tidak ingin juga terlalu siang karena jalur yang kami lalui sangat panas. Perjalanan pulang lebih cepat, alasannya karena kita sudah tahu rute yang akan kami lalui. Hanya sedikit foto diperjalanan ini, ya sangat sedikit. Tapi apa yang kami rasakan akan selalu menjadi kenangan yang berarti.

"Be, mau peyem?" itulah kalimat pertama saat sampai di Kampus.

@D_Rahmaddi
  •  
  • 1
  • September 25, 2017
Odhy Odhy Author

Kawah Ratu Cidahu


Kawah ratu, saya sangat suka tempat ini.
Kali ini saya akan bercerita tentang perjalanan saya dengan Bang Dony ke Kawah Ratu. Ini saat saya masih kerja di Jakarta, tepatnya bulan Juli 2016. Bang Dony adalah senior dalam hal mendaki gunung, mungkin hampir semua gunung Jawa barat dan Tengah pernah dia kunjungi, bulan maret sebelumnya dia baru pulang dari Semeru meskipun gagal sampai puncak. Perjalanan ke Kawah Ratu Gunung Salak saya lalui lewat Cidahu-Sukabumi.

Perjalanan dari Jakarta Ba'da Subuh, jalanan masih cukup lengang belum macet dan masih belum panas. Kami start dari Tebet, Tebet ini adalah kantor tempat kerjanya teman dan sekaligus basecame main gamenya teman-teman. Kami hanya berdua ke Kawah Ratu karena yang lain sedang sibuk. Membawa peralatan wajib seperti Tenda, Sleeping Bag, Matras namun kami lupa membawa kompor (jangan lakukan ini, periksa bawaan anda sebelum pergi).

Perjalanan dari Tebet ke Cidahu sekitar 3 Jam, namun kami tidak langsung ke Cidahu. Kami berhenti sarapan dan berbincang dengan temannya Bang Dony yang kebetulan tinggal di daerah Sukabumi. Sekitar pukul 10 kami melanjutkan ke Cidahu, suasana masih cukup asri dan masyarakat masih kental dengan Bahasa Sunda. Kami berhenti untuk membeli logistik (beras, mie, air, spirtus, tisu) dengan uang seadanya yang kami punya. Memang minim persiapan, tapi kami yakin siap untuk ini.
Gerbang Masuk Salak 1

Sampai di pintu masuk kawasan Gunung Halimun Salak, kami membawar perizinan dan mengisi identitas. Izin 1 malam untuk menginap dan berkunjung ke Kawah Ratu. Kami melanjutkan perjalanan ke Warung Kopi dengan niatan menitipkan sepeda motor. Cuaca sangat cerah, di warung ini ada gadis desa yang berjualan yang ternyata primadona para pendaki yang mampir. Pantas saja Bang Dony betah di sini.

Kami mencari lokasi mendirikan tenda, kami tidak naik ke gunung salak sore ini tapi hanya tinggal di camp ground. Lokasinya berundak, dan jika cuaca cerah akan tampak seperti bukit berbintang. Malam itu cuaca cukup dingin, Bang Dony tidur dulu kemudian saya. Sempat terbangun beberapa kali karena suhu yang super dingin, dan tidak terasa ternyata pagi telah menyapa. Seusai Sholat subuh kami ke warung untuk memesan teh hangat. Bang Dony pergi mencuci muka, kemudian menyusul ke warung.


Persimpangan Salak 1
Jam 8 kami pergi ke Kawah Ratu, semua barang kami titipkan ke warung demi keamanan. Kami hanya membawa satu botol air karena di sini air sangat melimpah, tidak lupa P3K dan beberapa cemilan. Memasuki gerbang ke arah Salak 1, jalur menanjak curam beberapa meter kemudian landai. Semakin masuk ke dalam, hutan serasa sangat lebat dan udaranya sangat sejuk. Setelah berjalan kurang lebih setengah jam kami sampai di persimpagan menuju ke Puncak salak 1 dan ke Kawah Ratu. Berhenti sejenak untuk foto dan minum, lalu kami lanjutkan ke atas.

Kami sampai di lapangan mungkin ini sebuah tempat camping, terus berjalan kami mencari kaleng susu bekas untuk membuat kompor. Setelah ketemu, kami menggelar matras untuk santai di bawah rimbunan pohon yang tidak kami jumpai di Jakarta. Membuat kopi dan berfoto ria hehehe. Di sini kami berhenti sekitar 1 jam, cukup lama karena Kawah Ratu sudah sangat dekat dan hari masih belum benar-benar siang. Kami melanjutkan perjalanan ke arah kawah ratu, kemudian turun untuk berfoto.

Perjalanan cukup mudah untuk sampai di sini, bahkan ada beberapa ibu-ibu datang ke sini. Anda harus mencobanya, ke Kawah Ratu untuk berfoto ria menikmati indahnya alam Tuhan Yang Maha Esa.




Kawah Ratu



@2017, copyright Jejak Si Dhodhy

Bonus

  •  
  • 4
  • August 25, 2017
Odhy Odhy Author

Leuwi Hejo - Motoran

Leuwi Hejo
Ini adalah perjalanan yang sudah cukup lama, ini cerita saat saya masih di Jakarta. Ku merindukannya, Jakarta.

Leuwi Hejo adalah salah satu air terjun di daerah Sentul – Bogor. Kurang lebih 65km dari Jakarta pusat tempat kami memulai perjalanan. Tidak ada yang tau persis lokasinya ada di mana, namun ini akan serasa begitu menarik karena bersama banyak orang. Seperti perjalanan lain saya yang harus mencari arah, kami menggunakan GPS sebagai panduan.

Kami memulai perjalanan sekitar pukul 8, sangat siang, sangat telat ya begitulah. Kami menunggu A, A menunggu B, B menunggu C hahaha…. Kami memulai perjalanan dengan doa, berharap hari yang indah menemani kami hari ini. Perjalanan ke Cibinong tidak ada masalah apapun, kami sudah terbiasa melakukan perjalanan ke arah Bogor. Dari perempatan besar kita belok ke kiri arah ke Sirkuit Sentul, kami lalu belok kanan ke arah Sentul.

Jalan tak selamanya mulus, jalan daerah sini masih tidak sebagus sekarang. Kemudian ada pertigaan, kami belok kiri ke arah Babakan Madang menuju arah Jungle. Kami sempat berhenti sebentar memastikan arah yang kami lalui benar, kemudian kami lanjut perjalanan ke arah Leuwi Hejo. Ada Hutan Pinus gunung Pancar, dari sini kita belok kiri kurang lebih 7 km. Jalan tidak cukup baik, kami harus pelan memilah jalan yang bagus. Kemudian akan dijumpai jalan turun menuju sebuah jembatan yang langsung dibalas tanjakan cukup ekstreem.

Dari tanjakan iki perjalan masih belum usai, jalanan masih belum ada tanda akan segera sampai. Kita berhenti di sebuah warung es untuk beristirahat dan berfoto. Kami yakin ini sudah sangat dekat, sekitar 15 menit kami melanjutkan perjalanan ke arah Leuwi Hejo. Sekitar 10 menit kami sampai di pintu gerbangnya. Membayar tiket masuk, parkir kemudian berjalan sekitar 10 menit sampai di curug Leuwi Hejo. Suasana cukup ramai, bahkan dibilang sangat ramai.

Mencari tempat aman untuk tas yang terlihat oleh kami, beberapa tidak turun ke air. Saya melangkah ke arah air terjun yang agak susah dilalui, ada Usnan dan Dody yang ikut bersama. Melompat dari batu besar kami merasa ini adalah sebuah kegembiraan. Namun kami tidak bisa lama karena hari mulai gelap karena mendung. Tak terasa sudah 2 jam kami berada di air, Kami berlanjut naik menyantap Mie beserta Teh hangat yang sangat nikmat. Kami tidak bisa berlama-lama karena aroma hujan sudah mulai terasa.

Setelah bilas, kami pergi pulang. Apakah kami kehujanan? Iya kami basah kuyub dari parkiran hingga Jakarta. Sempat berhenti di Masjid Andalusia untuk Sholat, berhenti di warung untuk beli teh hangat karena teman kami sakit. Mungkin ini hanyalah perjalanan yang singkat, tapi saya tidak bisa melupakannya. Kenangan yang tercipta seakan sulit untuk hilang.


“Bahagian bukanlah keindahan saat engkau bisa mencapainya, tapi bagaimana keindahan itu menjadi kenangan yang tak kau lupakan” - #DR

@2017, copyright Jejak Si Dhodhy
  •  
  • 0
  • August 24, 2017
Odhy Odhy Author

Stray to the eastern part of Malang



Kampung Warna Warni

The morning in Malang is quite cold still not used to me. Last night I stayed at one of my friend's house in Malang. I went to poor yesterday afternoon just to meet one of my good friends from Jakarta. After talking and having dinner together, we split up, he went to the hotel and me to my friend's house. I was lucky, because my friend did not return to Tuban that day.


Rawon
In the morning, I started my journey through the streets of Malang. I had to find breakfast this morning because I was quite hungry. Eating rawon poor was very tasty that morning, but I was misplaced because for me 25,000 is quite expensive. After breakfast I went to Colorful Kampung, but I did not go in and just photo of the bridge. This is very beautiful for me who first came but the color of some has begun to disappear. I imagine if many places like this, this is beautiful.


I went eastward, I do not know what this area is. I go north, passing Universitas Negeri Malang campus 2, still continue to see a sign to the direction of Tumpang. All I know, Tumpang is the village of mountaineers started using Jeep to Semeru. I am very curious about the area that many people talk about, there is a fork and I turn right.

The streets are quite deserted, cool air typical of Malang which is a highland and beautiful nature is still more value. From a distance I saw a carrier bag there he was over the blue (angkot) car directions to Tumpang. The path is smooth and the scenery of rice fields along the way adds to the beautiful atmosphere of this area. After passing through the gate Tumpang after that you can turn right is the direction to Bromo and Semeru then to the left is the direction to Tumpang market.

View before Coban Pelangi
I'm headed right, my goal is as far as I can go. I passed the uphill streets. The directions are very clear here, I choose the direction of Bromo / Semeru. Crossed several jeeps from my front, almost nothing was empty. A jeep overtook me carrying foreign tourists complete with their big carrier bag on the car. I rode my motorcycle casually and unknowingly entered the forest area.


just see entrance gate of Coban Pelangi, some beautiful photo spots are also a lot here. And finally I met the entrance of Bromo Tengger Semeru. Previously I've been to Bromo but through Probolinggo and Pasuruan ( Read this ), this is a new experience for me. I do not go to the gate because it only brings a little money .... hehehehe

Gate entrance of Bromo Tengger Semeru

For me this simple journey is just an irreplaceable piece of excitement. Writing it down would not be as beautiful as his journey.

My Foto : Click Here

@2017, copyright Jejak Si Dhodhy


  •  
  • 0
  • August 10, 2017
Odhy Odhy Author

wisata malang - Nyasar



Kampung Warna Warni
Pagi hari di Malang yang cukup dingin masih belum terbiasa dengan saya. Tadi malam aku menginap di salah satu rumah temanku di Malang. Saya pergi ke malang kemarin siang hanya untuk bertemu salah satu teman baik saya dari Jakarta. Setelah berbicara dan makan malam bersama, kami berpisah, dia pergi ke hotel dan saya ke rumah teman saya. Saya beruntung, karena teman saya tidak kembali ke Tuban hari itu.


Rawon
Pagi hari, saya memulai perjalanan saya melewati jalanan Malang. Saya harus sarapan pagi ini karena lapar. Makan rawon malang itu sangat lezat pagi itu, tapi saya salah tempat karena untuk saya 25.000 cukup mahal. Setelah sarapan pagi aku pergi ke Kampung berwarna-warni, tapi aku tidak masuk dan hanya foto jembatan. Ini sangat indah buat saya yang pertama kali datang tapi warna beberapa sudah mulai lenyap. Saya membayangkan jika banyak tempat seperti ini, ini indah sekali.


Aku pergi ke timur, aku tidak tahu apa daerah ini. Saya ke utara, melewati kampus Universitas Negeri Malang 2, masih terus melihat tanda ke arah Tumpang. Yang saya tahu, Tumpang adalah desa pendaki gunung yang mulai menggunakan Jeep ke Semeru. Saya sangat penasaran dengan area yang banyak orang bicarakan, ada garpu dan saya berbelok ke kanan.

Jalan-jalan cukup sepi, udara sejuk khas Malang yang merupakan dataran tinggi dan indahnya alam masih lebih bernilai. Dari kejauhan aku melihat tas pembawa di sana dia melewati arah mobil biru (angkot) ke Tumpang. Jalannya mulus dan pemandangan sawah di sepanjang jalan menambah suasana indah daerah ini. Setelah melewati gerbang Tumpang setelah itu anda bisa berbelok ke kanan adalah arah ke Bromo dan Semeru lalu ke kiri adalah arah ke pasar Tumpang.


View before Coban Pelangi
Saya menuju ke kanan, tujuan saya sejauh saya bisa pergi. Aku melewati jalan menanjak. Petunjuknya sangat jelas disini, saya pilih arah Bromo / Semeru. Melintasi beberapa jip dari depan saya, hampir tidak ada yang kosong. Sebuah jip menyalip saya membawa turis asing lengkap dengan tas besar mereka di mobil. Saya mengendarai sepeda motor saya dengan santai dan tanpa sadar memasuki kawasan hutan.


Tengok saja pintu masuk Coban Pelangi, beberapa spot foto cantik juga banyak di sini. Dan akhirnya saya ketemu pintu masuk Bromo Tengger Semeru. Sebelumnya saya pernah ke Bromo tapi melalui Probolinggo dan Pasuruan (baca ini), ini adalah pengalaman baru buat saya. Saya tidak pergi ke pintu gerbang karena hanya membawa sedikit uang .... hehehehe



Gate entrance of Bromo Tengger Semeru

Bagiku perjalanan sederhana ini hanyalah sebuah kegembiraan yang tak tergantikan. Menuliskannya tidak akan seindah perjalanannya.


My Foto : Click Here



@2017, copyright Jejak Si Dhodhy

  •  
  • 0
  • August 10, 2017
Odhy Odhy Author

Krawak, this is Water Source

Sunday - August 6, 2017

A sunny day this morning after a four-hour journey yesterday afternoon from Sidoarjo to Tuban (my home). Today I have an agenda for cycling / GOWES to one of the tourist destinations in my area. I was last here when I was in high school about ten years ago. After taking my mother to the market for shopping, washing my bike and breakfast I started this journey.

My Bike with homemade pannier
Prayer this morning I hope there is a beautiful story that I can share later. Pannier's back was ready on the bike, I brought a change shirt, towel, nesting, stove, water and coffee. The knives and ropes I put on the outside. I had to hurry before the weather got hotter, because the road I would pass was mostly in the paddy field.

08.45 I started my journey, bumped into my friends. I walked through my village about 5 minutes and then went into the rice fields. The weather was so sunny this morning, there was hardly any view other than the rice fields and the small mountains on the north side. Finally I reached the village of Laju Kidul, the streets slightly more slowly as it passes through the market toward the Bakalan.


Stall @Tuban-Singgahan street
After that, the path is slightly uphill - + 200meter. Continue to paddle past the gas station, paddy field then meet the intersection. Here I choose straight, actually there are two paths that can be passed, left or straight but in general people choose left towards Tuban. I am straight until I enter the market area of ​​Jojogan, from here I turn left. The steep climbing road, 200 meters before reaching the Tuban highway - my stopover decided to go down to walk my bike.

I pulled over to the ice shop about 15 minutes then went on the road, flat road then up and down past Nglirip Waterfalls, more or less 1.5 km into the forest area. After the Singgahan - Montong border, there is a street down on the right side of the road, I entered very slowly. Looking for a place I can use to park my bike, and after ten years I finally come here again.

Swim @Krawak Source
I look around to find a spot to put bags and make coffee. I began to descend into the water, feeling refreshed. My stove turns on to make coffee. After my one and a half hour trip all paid off. The water is only 1 meter high, but it's very fresh to swim.

Entrance Ticket = Free
Parking Motorcycle = You simply buy snacks at the stall

Note: Now there's a tubing ride here ...

#Tuban
#VisitTuban
# VisitTuban2017
#JawaTimur
#EastJava

from other side
@2017, copyright Jejak Si Dhodhy

Other Photo : Click Here

  •  
  •  
  • 0
  • August 07, 2017
Odhy Odhy Author

Gowes jarak jauh (Jakarta-Nanggung)


Ini adalah pertama kalinya saya pergi cukup jauh, karena saya belum pernah lebih dari 50km sebelumnya. Hari itu beberapa hari yang lalu. Saya mulai mempersiapkan motor saya dan teman saya mulai memperbaikinya. Menyiapkan motor saya menjadi touring bike meski tidak sebagus yang dimiliki orang lain. Saya bukan orang yang cukup kaya untuk menjadikannya sepeda touring yang benar-benar layak yang saya inginkan.

Saya mulai dari beberapa artikel di internet sebagai referensi perjalanan saya kali ini. Mendengarkan cerita orang-orang hebat yang berada di sepedanya cukup lama tanpa keluhan. Pukul 5 sore saya sudah mandi, sangat tidak biasa saya mandi di atas 7 pagi. Kembali memeriksa sepedaku, tas dan beberapa peralatan dan perlengkapan medis yang lebih penting. Kali ini aku berangkat bersama dua temanku, Hamdi dan Hana. Tujuan perjalanan kami kali ini adalah rumah Hana di Bogor, dia hanya menyebut Bogor tanpa posisi terakhir.

Pukul 5.45 kami berkumpul di kampus, sedikit berlumuran dan kami memulai perjalanan dengan doa. Hana, Hamdi dan kemudian aku adalah bagian belakang untuk hal-hal yang tidak diinginkan. Kami mulai dari jalan Mardani Raya, Jakarta Pusat melewati jalan kecil menuju Archichi kemudian menuju ke Rawamangun. Perjalanan dilanjutkan menuju Cawang, disini kami berhenti sejenak untuk berfoto dan memutuskan tempat makan sarapan. Udara masih cukup sejuk, sangat nyaman untuk bersepeda.

Pukul 7.15 kami sampai di jembatan layang Rebo, inilah target kami sebelum sarapan pagi itu. Setelah sarapan pagi, kami turun hampir tanpa henti melewati pinggiran kota depok lalu kami sampai di Cibinong. Saya sangat senang kita sampai di sini, kita akan segera di Bogor. Saya membawa mereka ke Stadion Pakansari, mengambil foto yang panjang dan kemudian menuju Bogor. Cuaca sangat panas, sangat panas.


Kami terus mengayuh sampai kami mencapai persimpangan jalan yang baru, kiri, langsung menuju Dramaga langsung ke Bogor. Sampai disini kami berhenti, Hana menunjukkan google maps dan saya kaget. Saya hanya tahu, tujuan kita di selatan Bogor dan kita harus mendaki nanti. Sudah setengah jalan, saya tidak bisa mundur dan kami pasti akan sampai ke tempat tujuan. Singkat cerita, kita berbelok ke kanan dan mulai benar-benar merasakan arah naik turun menuju IPB.


Di sini, Hamdi sudah bosan muntah. Kami beristirahat di toko es kelapa muda yang harganya sangat murah hanya Rp 3.000 per gelas. Perjalanan kita lebih cepat dan pendakian berikutnya akan lebih berat dari sebelumnya. Setelah garpu ke arah Gunung Halimun Salak, jalannya benar-benar menanjak. Di sebuah pom bensin, kami berhenti sejenak untuk shalat dhuhur dan istirahat. Namun kami harus menunggu 2 jam lebih jauh karena hujan tiba-tiba turun cukup deras.


Hari mulai senja, kami turun perjalanan ke Nanggung-Bogor yang jika dilihat dari peta masih 25km. Sangat sedikit bonus turunan di sini, rata-rata jalanan naik menuju Hamdi yang berhenti untuk mengambil nafas. Keadaan jalanan masih tetap sama setelah tempat ashar kita di masjid, kawasan ini cukup indah dengan tanaman yang sangat banyak dibandingkan dengan Jakarta. Sulit mengatur keadaan jalan, yang harus mereka pandu motornya karena mereka tidak mampu mengayuh pedal ke atas.


Kami sangat dekat dan kurang dari 2 km sampai akhirnya motor Hamdi bocor dan harus diganti ban. Kami beruntung masih ada bengkel terbuka dan sudah menggunakan ban. Tunggu setengah jam, kita mengalami masalah
tidur Sangat dekat, aku melihat wajah bahagia Hana. Melewati jembatan gantung, kami juga sampai di rumah yang kami tuju dari pagi hari. Nanggung-Bogor, sangat menggoda untuk ditundukkan. Kami selesai sholat maghrib lalu pergi makan malam. Begitu indahnya perjalanan yang berarti ini, tapi tidak ada yang sia-sia dibalik senyum orang yang bahagia.





  •  
  • 0
  • July 26, 2017
Odhy Odhy Author

Cycling to South of Bogor


This is the first time I've gone far enough, because I've never been more than 50km before. That day was a few days ago. I started preparing my bike and my friend started fixing them. Setting up my bike to be a touring bike even though not as good as others have. I'm not a man rich enough to make it a really decent touring bike I want.

I started from some articles on the internet as a reference of my trip this time. Listening to the stories of great people who are on his bike long enough without complaints. At 5 o'clock I was already taking a bath, it's very unusual for me to bathe above 7 am. Back to check on my bike, bag and some of the more important tools and medical supplies. This time I set out with two of my friends, Hamdi and Hana. The purpose of our trip this time is Hana's house in Bogor, he just mentioned Bogor without the last position.

At 5.45 we had gathered on campus, a bit of breafing and we started the journey with prayer. Hana, Hamdi and then I was the back for things that are not desirable. We start from Mardani Raya street, Central Jakarta passes the small road to Archichi then proceeds to Rawamangun. The journey continues towards Cawang, here we pause for a photo and decide where to eat breakfast. The air is still quite cool, very comfortable to go biking.

At 7.15 we arrive at the Rebo market flyover, this is our target before breakfast that morning. After breakfast, we went down almost non-stop over the edge of depok city then we arrived at Cibinong. I'm so glad we got here, we'll be in Bogor soon. I took them to the Pakansari Stadium, took a long photo and then went to Bogor. The weather was very hot, it was very hot.

We keep pedaling until we reach the new crossroads, left, right toward Dramaga straight to Bogor. Up here we stopped, Hana showed google maps and I was shocked. I just know, our destination is south of Bogor and we have to climb later. It's been half way, I can not back down and we'll definitely get to our destination. Long story short, we turn right and start to really feel the direction up and down toward IPB.

Here, Hamdi is getting tired of vomiting. We took a break at the young coconut ice shop which turned out to be very cheap only Rp 3,000 per glass. Our journey is faster and the next climb will be heavier than ever. After the fork in the direction of Mount Halimun Salak, the road is really uphill. At a gas station, we pause for dhuhur prayer and rest. However we had to wait 2 hours for further as the rain suddenly went down quite swiftly.

The day began to hurt, we went down the trip to Nanggung-Bogor which if viewed from the map is still 25km. Very few derivative bonuses here, on average the streets rise to Hamdi's halt to take a breather. The state of the streets is still the same after our place of prayer ashar in the mosque, the area is quite beautiful with plants that very much compared to Jakarta. It is difficult to arrange the state of the road, which they must guide the bike because they can not afford to pedal up to the top.

We were very close and less than 2 km to the end Hamdi bike leaked and must be replaced tires. We are lucky there are still open workshops and have used tires. Wait half an hour, we have trouble
sleeping. Very close, I saw the happy face of Hana. Past the suspension bridge, we also arrived at the house we were headed from the morning. Nanggung-Bogor, very tempting to be subdued. We finished praying maghrib then went to dinner. So beautiful is this meaningful journey, but there is nothing in vain behind the smile of those who are happy.










  •  
  • 0
  • July 26, 2017
Odhy Odhy Author

Bromo tour - alone






It's a good day to share stories with you, this time I want to invite you still in the beautiful scenery of East Java. I would like to share my experience to Bromo by motorcycle.
It was Monday, May 1, 2017 is a national holiday or commonly known as #MayDay. The streets in Surabaya and Sidoarjo have started to congestion when laborers from other regions concentrate their destination to the East Java governor's office that day. Path switching is considered the most telling solution in breaking down the bottleneck. I do not like to traffic jam, I choose to leave Sidoarjo trying to a new place that I have never visited.

Capitalize money Rp 200.000, - I leave with my Motorcycle complete with my jacket and sandal. There are things that I never forget when leaving the typical cloth of the Baduy tribe that I bought last November. At 8:00 am I left and did not forget to breakfast, that morning I ate pecel rice + hot tea for Rp. 9,000, then I go to gas stations to fill gasoline.

On the way, I listened to the radio through my earphones to ensure there was no traffic jam in the places I was going to go. On this trip I went alone, as did my other trips. For me to go alone is one thing that can create inner peace. Previously I've been to Bogor itself from Jakarta, around Jakarta itself, to Semarang itself, to Malang itself and some other places. There is always a calming story.
Route My trip this time to Sidoarjo -> Porong -> Gempol then I will determine my direction later. I have two directions to my destination, to Malang or east to Pasuruan. I choose to Pasuruan because I really have never been here, I just want to find a new place that I have never visited. The streets had jammed when I arrived in Pasuruan, many protesters who had just arrived using motorcycles, trucks and buses. I do not remember what time I arrived in Pasuruan, but it seemed a long time.
My journey continues to Probolinggo, the reason is because I see Probolinggo writing on the same line. A little smile looked southward and for a moment saw the map "Bromo is there". But I still do not want to go to Bromo. I continued my trip to Proboliggo with the aim of the main square and Probolinggo mosque. Down the street for a few hours, I finally arrived at Probolinggo City. Looking around the square to look for spots and parking lots I see the mosque. I decided to go to the mosque to pray dhuhur.

Coconut Milk
After the prayer, my motorcycle was parked around the square. Enjoy the coconut milk ice in the square while talking to the merchant. While searching the internet, what is typical of probolinggo. I found interesting reading about vineyard in probolinggo, after paying for my ice then go. Down the streets of Probolinggo which are plaid or more like labyrinths.

But it seems I did not find the place I finally decided to return to Pasuruan because tomorrow morning I have to work. But this trip was not over yet, I see a board with the words "Bromo" leads to the left. Without lingering thinking I turned left and started down a path that was very strange to me. Some time the road began to climb, I almost run out of gas here. I filled my petrol and went on the way up until I finally got to the entrance to Bromo area. Here the air began to cool even though the afternoon sun was very bright. Paid admission and I started to feel the whisper of sand Bromo told many people. I targeted at 3 o'clock already down because I did not want to be too dark to be on the road.

Pasir Berbisik
Here you have to be careful, your ability to drive is really on the test. Sometimes your motorcycle will sway and it's hard to control. I was here until 3:30 to return home after immortalizing some photos. I came home through a different path, this time I will try directly to Pasuruan. The road is very steep, very not recommended for users matic. Frequent accidents fell because the motor is not able to climb or unable to resist when it goes down.
On my way home, I was surrounded by a fog that began to blanket this place. I need to be quick before everything gets really cold. This path is completely unfamiliar to me, as if there is no end. I've been through it for quite a while but not yet out of this place. I paused to pray in the mosque ashar. No more than 10 minutes from the mosque, I began to find a great way to return to Sidoarjo.
I arrived at Sidoarjo at 7, then paused to eat Soto ayam. On the way if you are able to give thanks all will be beautiful.


#DR

My Foto : Click Here









  •  
  •  
  • 0
  • July 25, 2017
Odhy Odhy Author

Followers

Contributors

Gowes cantik

Total Pageviews

Labels

Translate

Popular Posts