Dhodhy Site.
to Share my Adventure and Life
Showing posts with label Gunung. Show all posts
Showing posts with label Gunung. Show all posts

Gunung Penanggungan - kangen

Keindahannya lebih nyata dari yang orang ceritakan
Menjalani rutinitas seperti biasa kadang menjadikan seseorang merasa jenuh. Ini yang saya alami, mulai merenung sendiri, bicara sendiri... mungkin sudah mulai gila kayaknya hahaha
Hari itu pas Idul Adha, ya saya masih jadi anak kosan yang setia banget sama kosan. Dari usai Sholat Eid sampai Jumatan nggak ada






kegiatan apapun, nanti seusai sholat jumat ada tugas bagi-bagi daging Qurban sih, lalu habis itu? hah.. mulai jenuh lagi kan

Lirik kanan, kiri, atap tembok semua... OMG, mungkin gini rasanya burung tinggal di kandang...
Tapi ada satu benda yang membuatku melirik lebih lama dan seakan berbicara dengan benda itu "Kau ini belum pernah maen kotor-kotoran sehabis DLT, Pergi nggak...?" Kemudian lirik mata ke arah Pegagus 3, mulai buka-buka Mbah Google, buka Maps... "Sip, ini aja.. Oi... siap kan? kita jalan kali ini" (sambil lirik si merah).

Hari itu masih sekitar pukul 10 pagi, masih ada 1,5 jam sebelum jumatan. Mulai cek Tenda, Pakaian ganti, kompor, nesting, matras, air, P3K, tali prusik 4 mm, topi, kompas, sendal, jaket... yups udah semua. Packing, dan.... "Ni tenda Pasaknya kemana ya..." Sedikit putus asa rasanya. Udah nggak apalah, entar nyari jari-jari motor aja di bengkel. Nggak terasa sudah hampir jam 11.30, Bergegas mandi, pakai sarung, Baju Rapi, cusss masjid.

Seusai Jumatan, saya kembali ke kosan sejenak untuk ganti pakaian. Hari ini saya ada tugas membagi daging Qurban. Pukul 15.30 seusai sholat Ashar daging mulai dibagi. Sekitar 30 menit semua danging sudah ludes terbagi. Saya berbincang dengan Mas Adi
D: "Mas, nanti ada acara nggak? besok juga sih"
A: "Nggak ada Mas, kenapa?
D: "Ayo naik Gunung Penanggungan Mas"
A: "Loh, kapan Mas?"
D: "Yo sekarang Mas"
A: "Yaudah ayo" 
Akhirnya ada temen, Saya sama sekali belum pernah naik gunung dan saat perjalanan ke Tamiajeng (Jalur Pendakian Gunung Penanggungan) saya baru tau kalau Mas Adi juga belum pernah naik gunung. Kami mampir di mini market untuk beli Air dan sedikit cemilan. Dengan modal GPS Google Maps akhirnya sampai juga di Pos Tamiajeng.

Parkir di sini Rp 10.000, bayar dimuka. Lalu ke Pos Pendakian untuk laporan izin pendakian malam itu. Hanya tulis nama + bayar masuk 10rb/orang kami mendapat izin masuk. Sebelum masuk, kami mendapat arahan dari petugas mengenai rute dan aturan-aturan yang harus kami taati. Kalian harus menyiapkan 2 botol air/orang untuk pendakian Gunung Penanggungan. Di sini tidak ada sumber air kecuali di pos Pendaftaran.

Kami tidak langsung naik, mengisi perut di warung dengan Nasi+mie goreng+teh hangat. Sekitar pukuk 23.00 kami baru memulai pendakian. Sebelum kami naik,ada beberapa rombongan besar yang naik jadi kami pikir, akan serasa terlalu ramai jika kami berangkat saat itu. Saat diperjalanan, kami sempatkan mencari batang bambu kecil untuk pasak tenda nantinya.

Pos 1 ke Pos 2
Jalurnya masih landai, bahkan turun. Jalurnya berbatu, mesti berhati-hati karena jika jatuh pasti sangat sakit. Satu senter yang kami nyalakan hanya untuk berhemat sebenarnya. Tidak begitu lama kami sampai di Pos 2 berhadapan dengan warung-warung tutup malam itu. Kami tidak berhenti di sini, jalur masih panjang karena masih panjang untuk sampai di Puncak Bayangan.

Pos 2 ke Pos 3
Jalur mulai agak menanjak, tapi belum ekstreem. Masih cukup landai, bahkan ada jalan yang sudah tertata rapi untuk dilalui. Kontur jalan, tanah dan menurut saya jika hujan akan sangat becek. Sebelum Pos 3 kami berhenti sejenak untuk ngobrol dan minum. Ada rombongan yang sempat kami lewati, kini gantian menyalip kami. "Amit Mas" khas banget lah... hehehe (maaf ya kalau saya norak). Kami lanjut ke Pos 3 lalu beristirahat sejenak. Ternyata rombongan ini dari Jombang, anak pondok yang lagi liburan. Mereka udah pernah naik ke beberapa gunung (Kalau jauh saya... hahaha).

Keindahan lain Gunung Penanggungan
Pos 3 ke Pos 4
Secara tidak langsung mereka mengajak kami untuk bareng. Kami tidak menolak dan tidak juga menerimanya, tiba-tiba aja berjalan dalam rombongan cukup besar. Mereka sebenarnya cukup ramah, tapi bagi saya mereka terlalu berisik. Kami berhenti di pos 4, cukup lama di sini. Perbincangan mereka lebih ke guyonan remaja jaman Now yang tak tau etika. Mas Adi mengajak saya melanjutkan perjalanan, ternyata mereka juga lanjut.

Saya, Tenda dan Gunung Penanggungan di Puncak Bayangan
Pos 4 ke Puncak Bayangan
Mereka mulai berhenti lagi padahal belum ada 10 menit berjalan, saya dan Mas Adi memutuskan untuk terus melangkah. Pemandangan malam itu cukup indah bagi saya karena bintang, bulan dan kota kecil di selatan Gunung Penanggungan tampak gemerlap lampunya menampakkan suasana yang berbeda dari hari-hari biasanya. tidak ingat berapa lama kami berjalan, tapi ini cukup terjal hingga sampai ke puncak bayangan. Di sini kami hampir tidak memiliki lahan untuk mendirikan tenda, semua sudut terpenuhi tenda warna-warni. "Mas di sini aja, nanti saya yang atur. Mas Adi masuk pas tendanya sudah jadi, istirahat duluan aja nanti", ucap saya. 10 menit tenda telah berdiri tanpa pasak, iya tanpa pasak. Apa kalian ingat, di awal saya cerita bahwa saya tidak bawa pasak dan hanya menggunakan ranting bambu? di sini saya baru membuat pasak. Semua barang saya masukan, tapi saya tidak bisa tertidur karena takut telat subuh. Bikin kopi, dan menikmatinya sembari memandangi langit nan indah.



Puncak Bayangan ke Puncak
Sebenarnya Mas Adi ingin berburu matahari terbit, tapi dia malah terlelap lagi setelah subuh. Saya membuat mie untuk kami makan, sedikit mengelap muka dengan tisu basah dan cus ke Puncak. Kami berbekal biskuit dan 3/4 botol 1,5 liter air minum, serta barang yang tak pernah lupa untuk dibawa yakni P3K. Diperjalanan kami sebenarnya bisa sampai lebih cepat, namun ada rombongan kecil yang mungkin sedikit membutuhkan pertolongan kami. Bukan bermaksud sok pahlawan, kami menemani mereka hingga puncak begitu juga Mas Ihsan dan temannya (lupa namanya).
Rutenya berbatu dan pasir, bahanya jika ada batu jatuh seakan kayak di film 5cm. 1,5 jam kita sampai di puncak dan duduk berbincang dengan Mas Ihsan. Sempat ada seorang trail runner ke puncak dan kami sempat minta tolong di fotoin, masnya ramah dan humoris.
Gambaran Puncak sih penuh dengan rumput, ilalang, berpasir, ada cekungan di tengahnya serta ada sebuah makam di cekungan itu. Dari puncak kita bisa melihat gagahnya Arjuna, Welirang bahkan tampak dibalik awan sosok Semeru yang perkasa.

Ini adalah pertama kali saya benar-benar naik gunung dan sampai di puncak. Bagi saya, tidak heran begitu banyak orang ingin menikmati nikmatnya berada di atas sana, menurut saya prosesnya lebih menarik untuk dinikmati.
Note : kami turun jam 12.15, sampai bawah mungkin sudah jam 15.15an.

Bendera di puncak Gunung Penanggungan (Mas Ihsan dan Mas Adi)
dari kiri : Mas Adi, saya, Mas Bayu, Mas Ihsan
Nggak kenal bukan berarti nggak bisa senyum bareng
Puncak Gunung Penanggungan dengan view Gunung Arjuna + Welirang

Foto Lainnya : Klik di sini

@2017, copyright Jejak Si Dhodhy
  • 0
  • October 14, 2017
Odhy Odhy Author

Bromo Tour - Motor Dewean






Ini adalah hari yang baik untuk berbagi cerita dengan Anda, kali ini saya ingin mengundang Anda masih dalam pemandangan indah Jawa Timur. Saya ingin berbagi pengalaman saya dengan Bromo dengan sepeda motor.

Itu adalah hari Senin, 1 Mei 2017 adalah hari libur nasional atau biasa dikenal dengan #MayDay. Jalan-jalan di Surabaya dan Sidoarjo sudah mulai macet saat buruh dari daerah lain memusatkan tujuan mereka ke kantor gubernur Jawa Timur hari itu. Peralihan jalan dianggap sebagai solusi paling jitu dalam mengatasi kemacetan. Saya tidak suka macet, saya memilih untuk meninggalkan Sidoarjo mencoba tempat baru yang belum pernah saya kunjungi.

Memanfaatkan uang Rp 200.000, - Saya berangkat dengan motor lengkap dengan jaket dan sandal. Ada hal yang tak pernah saya lupakan saat meninggalkan kain khas suku Baduy yang saya beli November lalu. Pukul 8.00 pagi saya pergi dan tidak lupa sarapan pagi itu saya makan nasi pecel + teh panas seharga Rp. 9.000, lalu saya pergi ke pompa bensin untuk mengisi bensin.

Dalam perjalanan, saya mendengarkan radio melalui earphone saya untuk memastikan tidak ada kemacetan di tempat yang akan saya kunjungi. Dalam perjalanan ini saya pergi sendiri, begitu pula perjalanan saya yang lain. Bagi saya untuk pergi sendiri adalah satu hal yang bisa menciptakan kedamaian batin. Sebelumnya saya pernah ke Bogor sendiri dari Jakarta, sekitar Jakarta sendiri, ke Semarang sendiri, ke Malang sendiri dan beberapa tempat lainnya. Selalu ada cerita yang menenangkan.
Rute perjalanan saya kali ini ke Sidoarjo -> Porong -> Gempol maka saya akan menentukan arah saya nanti. Saya punya dua arah ke tempat tujuan saya, ke Malang atau timur ke Pasuruan. Saya memilih ke Pasuruan karena saya belum pernah ke sini, saya hanya ingin mencari tempat baru yang belum pernah saya kunjungi. Jalanan macet saat sampai di Pasuruan, banyak pemrotes yang baru saja tiba menggunakan sepeda motor, truk dan bus. Saya tidak ingat jam berapa saya tiba di Pasuruan, tapi rasanya sudah lama sekali.
Perjalanan saya terus ke Probolinggo, alasannya karena saya melihat tulisan Probolinggo pada baris yang sama. Senyum kecil tampak ke selatan dan sejenak melihat peta "Bromo ada disana". Tapi saya tetap tidak mau ke Bromo. Saya melanjutkan perjalanan saya ke Proboliggo dengan tujuan alun-alun dan masjid Probolinggo. Di jalan selama beberapa jam, akhirnya saya sampai di Kota Probolinggo. Melihat sekeliling alun-alun untuk mencari tempat dan tempat parkir saya melihat masjid. Saya memutuskan untuk pergi ke masjid untuk sholat dhuhur.


Es kelapa

Setelah sholat, motor saya diparkir di sekitar alun-alun. Nikmati es kelapa di alun-alun sambil berbicara dengan pedagang. Sambil mencari di internet, apa yang khas dari probolinggo. Saya menemukan bacaan menarik tentang kebun anggur di probolinggo, setelah membayar es saya lalu pergi. Di jalan-jalan Probolinggo yang berjejer atau lebih seperti labirin.

Tapi nampaknya saya tidak menemukan tempat saya akhirnya memutuskan untuk kembali ke Pasuruan karena besok pagi saya harus kerja. Tapi perjalanan ini belum berakhir, saya melihat sebuah papan dengan tulisan "Bromo" mengarah ke kiri. Tanpa berpikir lama, aku membelok ke kiri dan menyusuri jalan setapak yang sangat aneh bagiku. Beberapa saat jalan mulai menanjak, saya hampir kehabisan bensin di sini. Saya mengisi bensin saya dan melanjutkan perjalanan sampai akhirnya saya sampai di pintu masuk ke daerah Bromo. Di sini udara mulai mendingin meski matahari sore sangat cerah. Masuk berbayar dan saya mulai merasakan bisikan pasir Bromo kepada banyak orang. Saya targetkan pada jam 3 sudah turun karena saya tidak ingin terlalu gelap untuk bisa di jalan.

Pasir Berbisik

Di sini Anda harus berhati-hati, kemampuan mengemudi Anda benar-benar dalam ujian. Terkadang motor Anda akan bergoyang dan sulit dikendalikan. Saya di sini sampai jam 3.30 untuk kembali ke rumah setelah mengabadikan beberapa foto. Saya pulang ke rumah melalui jalur yang berbeda, kali ini saya akan coba langsung ke Pasuruan. Jalannya sangat curam, sangat tidak disarankan bagi pengguna matic. Kecelakaan sering terjadi karena motor tidak mampu memanjat atau tidak mampu menahan diri saat turun.
Dalam perjalanan pulang, saya dikelilingi oleh kabut yang mulai menyelimuti tempat ini. Aku harus cepat sebelum semuanya menjadi sangat dingin. Jalan ini benar-benar asing bagiku, seolah tak ada akhir. Aku sudah melewatinya cukup lama tapi belum keluar dari tempat ini. Saya berhenti berdoa di masjid ashar. Tak lebih dari 10 menit dari masjid, saya mulai menemukan jalan yang bagus untuk kembali ke Sidoarjo.
Saya sampai di Sidoarjo jam 7, lalu berhenti makan Soto ayam. Di jalan jika Anda bisa bersyukur semua akan cantik.


#DR

My Foto : Click Here










  • 0
  • July 25, 2017
Odhy Odhy Author

Followers

Contributors

Gowes cantik

Total Pageviews

Labels

Translate

Popular Posts