Gunung Penanggungan - kangen
October 14, 2017
![]() |
| Keindahannya lebih nyata dari yang orang ceritakan |
Hari itu pas Idul Adha, ya saya masih jadi anak kosan yang setia banget sama kosan. Dari usai Sholat Eid sampai Jumatan nggak ada
kegiatan apapun, nanti seusai sholat jumat ada tugas bagi-bagi daging Qurban sih, lalu habis itu? hah.. mulai jenuh lagi kan
kegiatan apapun, nanti seusai sholat jumat ada tugas bagi-bagi daging Qurban sih, lalu habis itu? hah.. mulai jenuh lagi kan
Lirik kanan, kiri, atap tembok semua... OMG, mungkin gini rasanya burung tinggal di kandang...
Tapi ada satu benda yang membuatku melirik lebih lama dan seakan berbicara dengan benda itu "Kau ini belum pernah maen kotor-kotoran sehabis DLT, Pergi nggak...?" Kemudian lirik mata ke arah Pegagus 3, mulai buka-buka Mbah Google, buka Maps... "Sip, ini aja.. Oi... siap kan? kita jalan kali ini" (sambil lirik si merah).
Hari itu masih sekitar pukul 10 pagi, masih ada 1,5 jam sebelum jumatan. Mulai cek Tenda, Pakaian ganti, kompor, nesting, matras, air, P3K, tali prusik 4 mm, topi, kompas, sendal, jaket... yups udah semua. Packing, dan.... "Ni tenda Pasaknya kemana ya..." Sedikit putus asa rasanya. Udah nggak apalah, entar nyari jari-jari motor aja di bengkel. Nggak terasa sudah hampir jam 11.30, Bergegas mandi, pakai sarung, Baju Rapi, cusss masjid.
Seusai Jumatan, saya kembali ke kosan sejenak untuk ganti pakaian. Hari ini saya ada tugas membagi daging Qurban. Pukul 15.30 seusai sholat Ashar daging mulai dibagi. Sekitar 30 menit semua danging sudah ludes terbagi. Saya berbincang dengan Mas Adi
D: "Mas, nanti ada acara nggak? besok juga sih"
A: "Nggak ada Mas, kenapa?
D: "Ayo naik Gunung Penanggungan Mas"
A: "Loh, kapan Mas?"
D: "Yo sekarang Mas"
A: "Yaudah ayo"
Akhirnya ada temen, Saya sama sekali belum pernah naik gunung dan saat perjalanan ke Tamiajeng (Jalur Pendakian Gunung Penanggungan) saya baru tau kalau Mas Adi juga belum pernah naik gunung. Kami mampir di mini market untuk beli Air dan sedikit cemilan. Dengan modal GPS Google Maps akhirnya sampai juga di Pos Tamiajeng.
Parkir di sini Rp 10.000, bayar dimuka. Lalu ke Pos Pendakian untuk laporan izin pendakian malam itu. Hanya tulis nama + bayar masuk 10rb/orang kami mendapat izin masuk. Sebelum masuk, kami mendapat arahan dari petugas mengenai rute dan aturan-aturan yang harus kami taati. Kalian harus menyiapkan 2 botol air/orang untuk pendakian Gunung Penanggungan. Di sini tidak ada sumber air kecuali di pos Pendaftaran.
Kami tidak langsung naik, mengisi perut di warung dengan Nasi+mie goreng+teh hangat. Sekitar pukuk 23.00 kami baru memulai pendakian. Sebelum kami naik,ada beberapa rombongan besar yang naik jadi kami pikir, akan serasa terlalu ramai jika kami berangkat saat itu. Saat diperjalanan, kami sempatkan mencari batang bambu kecil untuk pasak tenda nantinya.
Pos 1 ke Pos 2
Jalurnya masih landai, bahkan turun. Jalurnya berbatu, mesti berhati-hati karena jika jatuh pasti sangat sakit. Satu senter yang kami nyalakan hanya untuk berhemat sebenarnya. Tidak begitu lama kami sampai di Pos 2 berhadapan dengan warung-warung tutup malam itu. Kami tidak berhenti di sini, jalur masih panjang karena masih panjang untuk sampai di Puncak Bayangan.
Pos 2 ke Pos 3
Jalur mulai agak menanjak, tapi belum ekstreem. Masih cukup landai, bahkan ada jalan yang sudah tertata rapi untuk dilalui. Kontur jalan, tanah dan menurut saya jika hujan akan sangat becek. Sebelum Pos 3 kami berhenti sejenak untuk ngobrol dan minum. Ada rombongan yang sempat kami lewati, kini gantian menyalip kami. "Amit Mas" khas banget lah... hehehe (maaf ya kalau saya norak). Kami lanjut ke Pos 3 lalu beristirahat sejenak. Ternyata rombongan ini dari Jombang, anak pondok yang lagi liburan. Mereka udah pernah naik ke beberapa gunung (Kalau jauh saya... hahaha).
Secara tidak langsung mereka mengajak kami untuk bareng. Kami tidak menolak dan tidak juga menerimanya, tiba-tiba aja berjalan dalam rombongan cukup besar. Mereka sebenarnya cukup ramah, tapi bagi saya mereka terlalu berisik. Kami berhenti di pos 4, cukup lama di sini. Perbincangan mereka lebih ke guyonan remaja jaman Now yang tak tau etika. Mas Adi mengajak saya melanjutkan perjalanan, ternyata mereka juga lanjut.
![]() |
| Saya, Tenda dan Gunung Penanggungan di Puncak Bayangan |
Pos 4 ke Puncak BayanganMereka mulai berhenti lagi padahal belum ada 10 menit berjalan, saya dan Mas Adi memutuskan untuk terus melangkah. Pemandangan malam itu cukup indah bagi saya karena bintang, bulan dan kota kecil di selatan Gunung Penanggungan tampak gemerlap lampunya menampakkan suasana yang berbeda dari hari-hari biasanya. tidak ingat berapa lama kami berjalan, tapi ini cukup terjal hingga sampai ke puncak bayangan. Di sini kami hampir tidak memiliki lahan untuk mendirikan tenda, semua sudut terpenuhi tenda warna-warni. "Mas di sini aja, nanti saya yang atur. Mas Adi masuk pas tendanya sudah jadi, istirahat duluan aja nanti", ucap saya. 10 menit tenda telah berdiri tanpa pasak, iya tanpa pasak. Apa kalian ingat, di awal saya cerita bahwa saya tidak bawa pasak dan hanya menggunakan ranting bambu? di sini saya baru membuat pasak. Semua barang saya masukan, tapi saya tidak bisa tertidur karena takut telat subuh. Bikin kopi, dan menikmatinya sembari memandangi langit nan indah.
Puncak Bayangan ke Puncak
Sebenarnya Mas Adi ingin berburu matahari terbit, tapi dia malah terlelap lagi setelah subuh. Saya membuat mie untuk kami makan, sedikit mengelap muka dengan tisu basah dan cus ke Puncak. Kami berbekal biskuit dan 3/4 botol 1,5 liter air minum, serta barang yang tak pernah lupa untuk dibawa yakni P3K. Diperjalanan kami sebenarnya bisa sampai lebih cepat, namun ada rombongan kecil yang mungkin sedikit membutuhkan pertolongan kami. Bukan bermaksud sok pahlawan, kami menemani mereka hingga puncak begitu juga Mas Ihsan dan temannya (lupa namanya).
Rutenya berbatu dan pasir, bahanya jika ada batu jatuh seakan kayak di film 5cm. 1,5 jam kita sampai di puncak dan duduk berbincang dengan Mas Ihsan. Sempat ada seorang trail runner ke puncak dan kami sempat minta tolong di fotoin, masnya ramah dan humoris.
Gambaran Puncak sih penuh dengan rumput, ilalang, berpasir, ada cekungan di tengahnya serta ada sebuah makam di cekungan itu. Dari puncak kita bisa melihat gagahnya Arjuna, Welirang bahkan tampak dibalik awan sosok Semeru yang perkasa.
Ini adalah pertama kali saya benar-benar naik gunung dan sampai di puncak. Bagi saya, tidak heran begitu banyak orang ingin menikmati nikmatnya berada di atas sana, menurut saya prosesnya lebih menarik untuk dinikmati.
Note : kami turun jam 12.15, sampai bawah mungkin sudah jam 15.15an.
Foto Lainnya : Klik di sini
Rutenya berbatu dan pasir, bahanya jika ada batu jatuh seakan kayak di film 5cm. 1,5 jam kita sampai di puncak dan duduk berbincang dengan Mas Ihsan. Sempat ada seorang trail runner ke puncak dan kami sempat minta tolong di fotoin, masnya ramah dan humoris.
Gambaran Puncak sih penuh dengan rumput, ilalang, berpasir, ada cekungan di tengahnya serta ada sebuah makam di cekungan itu. Dari puncak kita bisa melihat gagahnya Arjuna, Welirang bahkan tampak dibalik awan sosok Semeru yang perkasa.
Ini adalah pertama kali saya benar-benar naik gunung dan sampai di puncak. Bagi saya, tidak heran begitu banyak orang ingin menikmati nikmatnya berada di atas sana, menurut saya prosesnya lebih menarik untuk dinikmati.
Note : kami turun jam 12.15, sampai bawah mungkin sudah jam 15.15an.
Foto Lainnya : Klik di sini
@2017, copyright Jejak Si Dhodhy






Post a Comment