Showing posts with label West Java. Show all posts
Showing posts with label West Java. Show all posts
Gowes jarak jauh (jakarta - subang)
September 25, 2017
Pagi itu, 31 Desember 2016 perjalanan ini bermula dari rencana tahun baru yang beda dari tahun-tahun sebelumnya. Ke mana Hamdi? Dia lagi pergi ke kampung halaman...
Agak telat, atau mungkin sangat telat... Kita mulai berangkat pukul 7 pagi saat matahari sudah memberikan kehangatan. Target kali ini adalah Subang, apa yang akan kita lakukan di sana? Hanya Hana yang tau. Masih seperti sebelumnya, Blacksun (Sepedaku) telah siap memulai petualangan ini. Tas belakang sudah terpasang, P3K air dan pakaian ganti serta alat-alat sederhana sepeda sudah bergelantung di stang.
Rute pertama Rawasari-Haji Ten-Kawasan Jeep - Klender. Pagi ini kita belum sarapan, saya mengatakan pada Hana paling lambat jam 8 kita harus makan. Mungkin kita ada di sekitar Klender. Sebelum jembatan Klender, kita berhenti untuk sarapan. Saya sudah mempelajari rutenya, ini perjalanan yang kering/panas dan pasti butuh banyak tenaga. Seusai sarapan kita menuju ke selatan arah Kalimalang.
Kalimalang jalur ekstreem yang sering terjadi hujan abu (hanya istilah), sekitar setengah jam perjalanan sampai di Bekasi. Berhenti berhenti untuk minum, lalu langkah kami menyusuri arah Cibitung. Hana tiba-tiba berhenti saat ada penjual jaket berjejer di sepanjang jalur ini. Perjalanan masih panjang, Hana membeli jaket.
Cuaca sangat terik, perjalanan berlanjut hingga perempatan Cibitung kita berhenti melihat Maps. Jalur yang akan kita lalui masih lurus ke arah Jababeka. Saya benar-benar buta arah, tapi perkiraan saya jalurnya akan sangat panas. Sesuai perkiraan, jalanan sangat panas Hana berhenti beberapa kali untuk minum, kita sampai di perempatan Cikarang.
Di sini kejadian salah jalur dimulai, nggak fatal bagi pengguna motor tapi goweser ini sangat parah. Kita masuk ke Jababeka, menyusuri jalan yang isinya pertokoan, rumah mewah, sekolah dll. Saya sudah agak lupa apa saya yang saya lihat, di sini kita berhenti sejenak untuk minum dan beristirahat. Saya melihat Google Maps, selanjutnya Stadion Wibawa Mukti lalu masuk ke tepian kali malang lagi.
Jalur ini serasa tanpa akhir, kita mulai melihat Stadion Wibawa Mukti. Megah, tapi cukup panas karena kurangnya pepohonan. Hampir sama dengan Stadion Pakansari keadaannya masih belum 100% sepertinya. Dari sini kita terus ke sisi selatan stadion kemudian masuk ke perkampungan.
Hana memberi kode bahwa dia sudah lapar, kami berhenti di sebuah Warteg (Warung Tegal). Menyusuri jalan ke Karawang masih sangat jauh, sangat sangat amat sangat. Saya sering melihat Google Maps di perjalanan ini untuk memastikan jalur yang kami lalui benar karena saya tidak mau waktu dan tenaga kami terbuang.
Saya menggunakan mode pejalan kaki, ternyata ini salah karena kami salah jalur. Kami melewati jalan setapak yang tidak memiliki jalur untuk sepeda kami lewat. Kembali ke arah jalan raya melalui jalur lain yang membuat kami kembali ke tepian kali malang. Jalur ini sangat panas, menghindari ban bocor saya mengurangi sedikit angin sepeda. Cukup lama kami gowes di sini hingga melihat sebuah perbatas yang menandakan kami masuk wilayah Karawang.
-- Es Kelapa yang menyegarkan
Sangat jauh atau mungkin karena pengaruh panas yang sangat menyengat? Entahlah tapi ini serasa sangat jauh. Saat diperjalanan saya melihat banyak warga sekitar yang menggunakan mobil pick up bak terbuka sebagai alat transportasi masal. Mungkin ini adalah salah satu alternatif transportasi yang ada dengan jarak ke kota lumayan jauh, baik ke Bekasi maupun ke Karawang.
Setelah singgah kurang lebih 15 menit, kami melanjutkan perjalanan. Kembali menyususri jalanan kota Karawang, kami sampai di sebuah jembatan yang agak panjang. Setelah jembatan kami belok kiri di sebuah pertigaan, hari mulai petang dan kemi belum sholat ashar. Kami berhenti untuk sholat ashar dan melihat-lihat peta beberapa kali untuk memastikan masih berapa jauhkah jarak yang akan kita tempuh. Kami masih sangat jauh dari Subang, meski hanya pinggirannya. Tapi ini adalah perjalanan paling menarik yang pernah saya lakukan, datang ke satu tempat yang biasanya saya laualui dengan kereta atau bus, kini saya melewatinya dengan sepeda. Mungkin saya agak gila dengan perjalanan tanpa tujuan ini.
Setelah mengayuh setengah jam, Hana mulai tampak lelah. Saya memutuskan untuk berhenti membeli Pocari Sweat, nggak tau kenapa ini serasa tenaga super atau mungkin pil dewa milik Son Goku yang sudah dicampur dengan ramuan dari ayahnya ChiChi. Kita terus mengayuh, masuk wilayah Cikampek, melewati stasiunnya dan mulai teringat sesuatu. "Biasanya naik kereta sampe sini 2 jam". Berlanjut lagi dan sesekali beristirahat, tidak ada yang cukup indah pemandangan di sini karena ini adalah jalur ramai Pantura. Sesekali minggir karena klakson Bus yang seakan menguasai pantura.
Kami mulai masuk wilayah Karawang, iya anda tidak salah baca ini adalah karawang ke dua. Kalau tidak salah, ini adalah Karawang Timur. Perjalanan terhenti kalai maghrib di sebuah mushola milik SPBU. Mengintip Maps "OMG" hahaha... udahlah ini gila, kayaknya perjalanan ini tak pernah sampai. Saya mulai memperhatikan Hana, dan sesekali bertanya "Han, lanjut nggak, kalau lanjut duluan" Ini karena sepeda hanya tidak memiliki reflektor sehingga berbaya jika ada kendaraan dari belakang. Dan dan dan, kami masuk wilayah Subang... Thank God
Tapi ini belum tujuan kita, Hana sudah mulai menyerah. Saya menghubungi Bagus yang kebetulan sedang ada di Cikampek, "Gus Posisi, Numpang nginep nih" dan tak lama kemudian dia membalas "Rumah Nenek gw, yaudah sini gih....(sambil shareloc)".... "Oke OTW, 1 jam"... "Siap"... Yups, saya bilang ke Hana untuk balik arah. Bukan tidak beralasan, tapi karena itu adalah satu-satunya cara untuk bisa tidur malam ini selain di POM ataupun Masjid. Kami sampai di rumah neneknya Bagus jam 10 malam, dengan wajah terheran-heran orang tuanya berkata "Gus nggak ikut, biar kurus"
Intinya malam itu kita menginap di Rumah Neneknya Bagus, keesokan paginya mulai berbenah dan melihat-lihat sawah yang sangat jarang terlihat di Jakarta. Udara pagi sangat sejuk khas Perdesaan. Kami tidak berencana pulang buru-buru tapi tidak ingin juga terlalu siang karena jalur yang kami lalui sangat panas. Perjalanan pulang lebih cepat, alasannya karena kita sudah tahu rute yang akan kami lalui. Hanya sedikit foto diperjalanan ini, ya sangat sedikit. Tapi apa yang kami rasakan akan selalu menjadi kenangan yang berarti.
"Be, mau peyem?" itulah kalimat pertama saat sampai di Kampus.
@D_Rahmaddi
Sangat jauh atau mungkin karena pengaruh panas yang sangat menyengat? Entahlah tapi ini serasa sangat jauh. Saat diperjalanan saya melihat banyak warga sekitar yang menggunakan mobil pick up bak terbuka sebagai alat transportasi masal. Mungkin ini adalah salah satu alternatif transportasi yang ada dengan jarak ke kota lumayan jauh, baik ke Bekasi maupun ke Karawang.
Setelah singgah kurang lebih 15 menit, kami melanjutkan perjalanan. Kembali menyususri jalanan kota Karawang, kami sampai di sebuah jembatan yang agak panjang. Setelah jembatan kami belok kiri di sebuah pertigaan, hari mulai petang dan kemi belum sholat ashar. Kami berhenti untuk sholat ashar dan melihat-lihat peta beberapa kali untuk memastikan masih berapa jauhkah jarak yang akan kita tempuh. Kami masih sangat jauh dari Subang, meski hanya pinggirannya. Tapi ini adalah perjalanan paling menarik yang pernah saya lakukan, datang ke satu tempat yang biasanya saya laualui dengan kereta atau bus, kini saya melewatinya dengan sepeda. Mungkin saya agak gila dengan perjalanan tanpa tujuan ini.
Setelah mengayuh setengah jam, Hana mulai tampak lelah. Saya memutuskan untuk berhenti membeli Pocari Sweat, nggak tau kenapa ini serasa tenaga super atau mungkin pil dewa milik Son Goku yang sudah dicampur dengan ramuan dari ayahnya ChiChi. Kita terus mengayuh, masuk wilayah Cikampek, melewati stasiunnya dan mulai teringat sesuatu. "Biasanya naik kereta sampe sini 2 jam". Berlanjut lagi dan sesekali beristirahat, tidak ada yang cukup indah pemandangan di sini karena ini adalah jalur ramai Pantura. Sesekali minggir karena klakson Bus yang seakan menguasai pantura.
Kami mulai masuk wilayah Karawang, iya anda tidak salah baca ini adalah karawang ke dua. Kalau tidak salah, ini adalah Karawang Timur. Perjalanan terhenti kalai maghrib di sebuah mushola milik SPBU. Mengintip Maps "OMG" hahaha... udahlah ini gila, kayaknya perjalanan ini tak pernah sampai. Saya mulai memperhatikan Hana, dan sesekali bertanya "Han, lanjut nggak, kalau lanjut duluan" Ini karena sepeda hanya tidak memiliki reflektor sehingga berbaya jika ada kendaraan dari belakang. Dan dan dan, kami masuk wilayah Subang... Thank God
Tapi ini belum tujuan kita, Hana sudah mulai menyerah. Saya menghubungi Bagus yang kebetulan sedang ada di Cikampek, "Gus Posisi, Numpang nginep nih" dan tak lama kemudian dia membalas "Rumah Nenek gw, yaudah sini gih....(sambil shareloc)".... "Oke OTW, 1 jam"... "Siap"... Yups, saya bilang ke Hana untuk balik arah. Bukan tidak beralasan, tapi karena itu adalah satu-satunya cara untuk bisa tidur malam ini selain di POM ataupun Masjid. Kami sampai di rumah neneknya Bagus jam 10 malam, dengan wajah terheran-heran orang tuanya berkata "Gus nggak ikut, biar kurus"
Intinya malam itu kita menginap di Rumah Neneknya Bagus, keesokan paginya mulai berbenah dan melihat-lihat sawah yang sangat jarang terlihat di Jakarta. Udara pagi sangat sejuk khas Perdesaan. Kami tidak berencana pulang buru-buru tapi tidak ingin juga terlalu siang karena jalur yang kami lalui sangat panas. Perjalanan pulang lebih cepat, alasannya karena kita sudah tahu rute yang akan kami lalui. Hanya sedikit foto diperjalanan ini, ya sangat sedikit. Tapi apa yang kami rasakan akan selalu menjadi kenangan yang berarti.
"Be, mau peyem?" itulah kalimat pertama saat sampai di Kampus.
@D_Rahmaddi
Kawah Ratu Cidahu
August 25, 2017
Kawah ratu, saya sangat suka tempat ini.
Kali ini saya akan bercerita tentang perjalanan saya dengan Bang Dony ke Kawah Ratu. Ini saat saya masih kerja di Jakarta, tepatnya bulan Juli 2016. Bang Dony adalah senior dalam hal mendaki gunung, mungkin hampir semua gunung Jawa barat dan Tengah pernah dia kunjungi, bulan maret sebelumnya dia baru pulang dari Semeru meskipun gagal sampai puncak. Perjalanan ke Kawah Ratu Gunung Salak saya lalui lewat Cidahu-Sukabumi.
Perjalanan dari Jakarta Ba'da Subuh, jalanan masih cukup lengang belum macet dan masih belum panas. Kami start dari Tebet, Tebet ini adalah kantor tempat kerjanya teman dan sekaligus basecame main gamenya teman-teman. Kami hanya berdua ke Kawah Ratu karena yang lain sedang sibuk. Membawa peralatan wajib seperti Tenda, Sleeping Bag, Matras namun kami lupa membawa kompor (jangan lakukan ini, periksa bawaan anda sebelum pergi).
Perjalanan dari Tebet ke Cidahu sekitar 3 Jam, namun kami tidak langsung ke Cidahu. Kami berhenti sarapan dan berbincang dengan temannya Bang Dony yang kebetulan tinggal di daerah Sukabumi. Sekitar pukul 10 kami melanjutkan ke Cidahu, suasana masih cukup asri dan masyarakat masih kental dengan Bahasa Sunda. Kami berhenti untuk membeli logistik (beras, mie, air, spirtus, tisu) dengan uang seadanya yang kami punya. Memang minim persiapan, tapi kami yakin siap untuk ini.
![]() |
| Gerbang Masuk Salak 1 |
Sampai di pintu masuk kawasan Gunung Halimun Salak, kami membawar perizinan dan mengisi identitas. Izin 1 malam untuk menginap dan berkunjung ke Kawah Ratu. Kami melanjutkan perjalanan ke Warung Kopi dengan niatan menitipkan sepeda motor. Cuaca sangat cerah, di warung ini ada gadis desa yang berjualan yang ternyata primadona para pendaki yang mampir. Pantas saja Bang Dony betah di sini.
Kami mencari lokasi mendirikan tenda, kami tidak naik ke gunung salak sore ini tapi hanya tinggal di camp ground. Lokasinya berundak, dan jika cuaca cerah akan tampak seperti bukit berbintang. Malam itu cuaca cukup dingin, Bang Dony tidur dulu kemudian saya. Sempat terbangun beberapa kali karena suhu yang super dingin, dan tidak terasa ternyata pagi telah menyapa. Seusai Sholat subuh kami ke warung untuk memesan teh hangat. Bang Dony pergi mencuci muka, kemudian menyusul ke warung.
![]() |
| Persimpangan Salak 1 |
Kami sampai di lapangan mungkin ini sebuah tempat camping, terus berjalan kami mencari kaleng susu bekas untuk membuat kompor. Setelah ketemu, kami menggelar matras untuk santai di bawah rimbunan pohon yang tidak kami jumpai di Jakarta. Membuat kopi dan berfoto ria hehehe. Di sini kami berhenti sekitar 1 jam, cukup lama karena Kawah Ratu sudah sangat dekat dan hari masih belum benar-benar siang. Kami melanjutkan perjalanan ke arah kawah ratu, kemudian turun untuk berfoto.
Perjalanan cukup mudah untuk sampai di sini, bahkan ada beberapa ibu-ibu datang ke sini. Anda harus mencobanya, ke Kawah Ratu untuk berfoto ria menikmati indahnya alam Tuhan Yang Maha Esa.
![]() |
| Kawah Ratu |
@2017, copyright Jejak Si Dhodhy
Bonus
Leuwi Hejo - Motoran
August 24, 2017
Leuwi Hejo
Ini adalah perjalanan yang sudah cukup lama, ini cerita saat
saya masih di Jakarta. Ku merindukannya, Jakarta.
Leuwi Hejo adalah salah satu air terjun di daerah Sentul –
Bogor. Kurang lebih 65km dari Jakarta pusat tempat kami memulai perjalanan.
Tidak ada yang tau persis lokasinya ada di mana, namun ini akan serasa begitu
menarik karena bersama banyak orang. Seperti perjalanan lain saya yang harus
mencari arah, kami menggunakan GPS sebagai panduan.
Kami memulai perjalanan sekitar pukul 8, sangat siang,
sangat telat ya begitulah. Kami menunggu A, A menunggu B, B menunggu C hahaha….
Kami memulai perjalanan dengan doa, berharap hari yang indah menemani kami hari
ini. Perjalanan ke Cibinong tidak ada masalah apapun, kami sudah terbiasa
melakukan perjalanan ke arah Bogor. Dari perempatan besar kita belok ke kiri
arah ke Sirkuit Sentul, kami lalu belok kanan ke arah Sentul.
Jalan tak selamanya mulus, jalan daerah sini masih tidak
sebagus sekarang. Kemudian ada pertigaan, kami belok kiri ke arah Babakan Madang
menuju arah Jungle. Kami sempat berhenti sebentar memastikan arah yang kami
lalui benar, kemudian kami lanjut perjalanan ke arah Leuwi Hejo. Ada Hutan
Pinus gunung Pancar, dari sini kita belok kiri kurang lebih 7 km. Jalan tidak
cukup baik, kami harus pelan memilah jalan yang bagus. Kemudian akan dijumpai
jalan turun menuju sebuah jembatan yang langsung dibalas tanjakan cukup
ekstreem.
Dari tanjakan iki perjalan masih belum usai, jalanan masih
belum ada tanda akan segera sampai. Kita berhenti di sebuah warung es untuk
beristirahat dan berfoto. Kami yakin ini sudah sangat dekat, sekitar 15 menit
kami melanjutkan perjalanan ke arah Leuwi Hejo. Sekitar 10 menit kami sampai di
pintu gerbangnya. Membayar tiket masuk, parkir kemudian berjalan sekitar 10 menit
sampai di curug Leuwi Hejo. Suasana cukup ramai, bahkan dibilang sangat ramai.
Mencari tempat aman untuk tas yang terlihat oleh kami,
beberapa tidak turun ke air. Saya melangkah ke arah air terjun yang agak susah
dilalui, ada Usnan dan Dody yang ikut bersama. Melompat dari batu besar kami
merasa ini adalah sebuah kegembiraan. Namun kami tidak bisa lama karena hari
mulai gelap karena mendung. Tak terasa sudah 2 jam kami berada di air, Kami
berlanjut naik menyantap Mie beserta Teh hangat yang sangat nikmat. Kami tidak
bisa berlama-lama karena aroma hujan sudah mulai terasa.
Setelah bilas, kami pergi pulang. Apakah kami kehujanan? Iya
kami basah kuyub dari parkiran hingga Jakarta. Sempat berhenti di Masjid
Andalusia untuk Sholat, berhenti di warung untuk beli teh hangat karena teman
kami sakit. Mungkin ini hanyalah perjalanan yang singkat, tapi saya tidak bisa
melupakannya. Kenangan yang tercipta seakan sulit untuk hilang.
“Bahagian bukanlah keindahan saat engkau bisa mencapainya,
tapi bagaimana keindahan itu menjadi kenangan yang tak kau lupakan” - #DR
Gowes jarak jauh (Jakarta-Nanggung)
July 26, 2017
Ini adalah pertama kalinya saya pergi cukup jauh, karena saya belum pernah lebih dari 50km sebelumnya. Hari itu beberapa hari yang lalu. Saya mulai mempersiapkan motor saya dan teman saya mulai memperbaikinya. Menyiapkan motor saya menjadi touring bike meski tidak sebagus yang dimiliki orang lain. Saya bukan orang yang cukup kaya untuk menjadikannya sepeda touring yang benar-benar layak yang saya inginkan.
Saya mulai dari beberapa artikel di internet sebagai referensi perjalanan saya kali ini. Mendengarkan cerita orang-orang hebat yang berada di sepedanya cukup lama tanpa keluhan. Pukul 5 sore saya sudah mandi, sangat tidak biasa saya mandi di atas 7 pagi. Kembali memeriksa sepedaku, tas dan beberapa peralatan dan perlengkapan medis yang lebih penting. Kali ini aku berangkat bersama dua temanku, Hamdi dan Hana. Tujuan perjalanan kami kali ini adalah rumah Hana di Bogor, dia hanya menyebut Bogor tanpa posisi terakhir.
Pukul 5.45 kami berkumpul di kampus, sedikit berlumuran dan kami memulai perjalanan dengan doa. Hana, Hamdi dan kemudian aku adalah bagian belakang untuk hal-hal yang tidak diinginkan. Kami mulai dari jalan Mardani Raya, Jakarta Pusat melewati jalan kecil menuju Archichi kemudian menuju ke Rawamangun. Perjalanan dilanjutkan menuju Cawang, disini kami berhenti sejenak untuk berfoto dan memutuskan tempat makan sarapan. Udara masih cukup sejuk, sangat nyaman untuk bersepeda.
Pukul 7.15 kami sampai di jembatan layang Rebo, inilah target kami sebelum sarapan pagi itu. Setelah sarapan pagi, kami turun hampir tanpa henti melewati pinggiran kota depok lalu kami sampai di Cibinong. Saya sangat senang kita sampai di sini, kita akan segera di Bogor. Saya membawa mereka ke Stadion Pakansari, mengambil foto yang panjang dan kemudian menuju Bogor. Cuaca sangat panas, sangat panas.
Kami terus mengayuh sampai kami mencapai persimpangan jalan yang baru, kiri, langsung menuju Dramaga langsung ke Bogor. Sampai disini kami berhenti, Hana menunjukkan google maps dan saya kaget. Saya hanya tahu, tujuan kita di selatan Bogor dan kita harus mendaki nanti. Sudah setengah jalan, saya tidak bisa mundur dan kami pasti akan sampai ke tempat tujuan. Singkat cerita, kita berbelok ke kanan dan mulai benar-benar merasakan arah naik turun menuju IPB.
Di sini, Hamdi sudah bosan muntah. Kami beristirahat di toko es kelapa muda yang harganya sangat murah hanya Rp 3.000 per gelas. Perjalanan kita lebih cepat dan pendakian berikutnya akan lebih berat dari sebelumnya. Setelah garpu ke arah Gunung Halimun Salak, jalannya benar-benar menanjak. Di sebuah pom bensin, kami berhenti sejenak untuk shalat dhuhur dan istirahat. Namun kami harus menunggu 2 jam lebih jauh karena hujan tiba-tiba turun cukup deras.
Hari mulai senja, kami turun perjalanan ke Nanggung-Bogor yang jika dilihat dari peta masih 25km. Sangat sedikit bonus turunan di sini, rata-rata jalanan naik menuju Hamdi yang berhenti untuk mengambil nafas. Keadaan jalanan masih tetap sama setelah tempat ashar kita di masjid, kawasan ini cukup indah dengan tanaman yang sangat banyak dibandingkan dengan Jakarta. Sulit mengatur keadaan jalan, yang harus mereka pandu motornya karena mereka tidak mampu mengayuh pedal ke atas.
Kami sangat dekat dan kurang dari 2 km sampai akhirnya motor Hamdi bocor dan harus diganti ban. Kami beruntung masih ada bengkel terbuka dan sudah menggunakan ban. Tunggu setengah jam, kita mengalami masalah
tidur Sangat dekat, aku melihat wajah bahagia Hana. Melewati jembatan gantung, kami juga sampai di rumah yang kami tuju dari pagi hari. Nanggung-Bogor, sangat menggoda untuk ditundukkan. Kami selesai sholat maghrib lalu pergi makan malam. Begitu indahnya perjalanan yang berarti ini, tapi tidak ada yang sia-sia dibalik senyum orang yang bahagia.
Cycling to South of Bogor
July 26, 2017
I started from some articles on the internet as a reference of my trip this time. Listening to the stories of great people who are on his bike long enough without complaints. At 5 o'clock I was already taking a bath, it's very unusual for me to bathe above 7 am. Back to check on my bike, bag and some of the more important tools and medical supplies. This time I set out with two of my friends, Hamdi and Hana. The purpose of our trip this time is Hana's house in Bogor, he just mentioned Bogor without the last position.
At 5.45 we had gathered on campus, a bit of breafing and we started the journey with prayer. Hana, Hamdi and then I was the back for things that are not desirable. We start from Mardani Raya street, Central Jakarta passes the small road to Archichi then proceeds to Rawamangun. The journey continues towards Cawang, here we pause for a photo and decide where to eat breakfast. The air is still quite cool, very comfortable to go biking.
At 7.15 we arrive at the Rebo market flyover, this is our target before breakfast that morning. After breakfast, we went down almost non-stop over the edge of depok city then we arrived at Cibinong. I'm so glad we got here, we'll be in Bogor soon. I took them to the Pakansari Stadium, took a long photo and then went to Bogor. The weather was very hot, it was very hot.
We keep pedaling until we reach the new crossroads, left, right toward Dramaga straight to Bogor. Up here we stopped, Hana showed google maps and I was shocked. I just know, our destination is south of Bogor and we have to climb later. It's been half way, I can not back down and we'll definitely get to our destination. Long story short, we turn right and start to really feel the direction up and down toward IPB.
Here, Hamdi is getting tired of vomiting. We took a break at the young coconut ice shop which turned out to be very cheap only Rp 3,000 per glass. Our journey is faster and the next climb will be heavier than ever. After the fork in the direction of Mount Halimun Salak, the road is really uphill. At a gas station, we pause for dhuhur prayer and rest. However we had to wait 2 hours for further as the rain suddenly went down quite swiftly.
The day began to hurt, we went down the trip to Nanggung-Bogor which if viewed from the map is still 25km. Very few derivative bonuses here, on average the streets rise to Hamdi's halt to take a breather. The state of the streets is still the same after our place of prayer ashar in the mosque, the area is quite beautiful with plants that very much compared to Jakarta. It is difficult to arrange the state of the road, which they must guide the bike because they can not afford to pedal up to the top.
We were very close and less than 2 km to the end Hamdi bike leaked and must be replaced tires. We are lucky there are still open workshops and have used tires. Wait half an hour, we have trouble sleeping. Very close, I saw the happy face of Hana. Past the suspension bridge, we also arrived at the house we were headed from the morning. Nanggung-Bogor, very tempting to be subdued. We finished praying maghrib then went to dinner. So beautiful is this meaningful journey, but there is nothing in vain behind the smile of those who are happy.
Geopark Ciletuh, another wonderfull place in West Java
July 18, 2017
Ciletuh Geopark is a unique and charming tourist area consisting of several beautiful places in an area at the southern tip of Sukabumi. There are several natural attractions that we can enjoy and certainly complement our cool photos on social media. Natural nature is still natural and route is still offroad make this place suitable for you who like adventure.Not only presents the beautiful green nature. Geopark Ciletuh offers several eccentric spots such as beaches, falling water streams, hills with a super-cool view, jungle green forest and rice fields and unique hundreds of years old rocks. According to the Geologists who examine this Geopark Ciletuh, rocks that are here is the oldest rocks on the island of Java.
Here are some eccentric spots that exist in this Geopark Ciletuh:
1. Palangpang Beach
This beach is one of the beaches and also the icon of Ciletuh Geopark. Here we can take pictures ria in front of the monument Caperuh Geopark is plastered on this beach palangpang. Blowing breeze and white waves make this beach suitable for bathing. Here also there are some bale for us just take off tired after traveling from home.
2. Curug Cimarinjung
The towering cliffs and rocks that contain it make the river that surrounds it fall from a height. This one waterfall has a fairly high height and is an instagramable quirky spot. For those of you who like challenges and have a hobby of rock climbing, Cimarinjung waterfall is commonly used for rock climbing exercises in the wild by climbing communities.
3. Curug Sodong
No less interesting with the towering Cimarinjung waterfall. Curug Sodong give treats 2 curugs that we often call the twin curugs. Water that falls from the top makes two adjacent curves and certainly interesting for us to visit. The big tree that grows on the edge of the sodong curug makes everything ciamik and interesting to look at.
4. Curug Cikanteh
The water that fell swiftly and widened was so fascinating. Curug Cikanteh is right above curug sodong. If you want to this place. We have to walk around from corog sodong and walk up through the sodong curug.
5. Waterfall Awang
The rushing water around the high rocks just fell out of this place. Eye view fixed on the beauty of this one curug. This high and wide curved contour is similar to the world's highest waterfall, Niagara. A stunning Niagara mini that you should visit.
6. Peak of Darma
Peak always offers stunning natural scenery. In contrast to the top of the mountain that offers the keindaha beautiful clouds nan gorgeous, Darna peak offers a natural panorama that leads directly to the south coast surrounded by green fields. Some places of selfie have been displayed here for you who want to make friends jealous with your photos. When the sun is tenggampampun we can feel the solar away from the eastern horizon.
#ciletuh
#sukabumi
#cikanteh
#awang
#waterfall
#darma
#sodong
#cimarinjung





