Kawah Ratu Cidahu
August 25, 2017
Kawah ratu, saya sangat suka tempat ini.
Kali ini saya akan bercerita tentang perjalanan saya dengan Bang Dony ke Kawah Ratu. Ini saat saya masih kerja di Jakarta, tepatnya bulan Juli 2016. Bang Dony adalah senior dalam hal mendaki gunung, mungkin hampir semua gunung Jawa barat dan Tengah pernah dia kunjungi, bulan maret sebelumnya dia baru pulang dari Semeru meskipun gagal sampai puncak. Perjalanan ke Kawah Ratu Gunung Salak saya lalui lewat Cidahu-Sukabumi.
Perjalanan dari Jakarta Ba'da Subuh, jalanan masih cukup lengang belum macet dan masih belum panas. Kami start dari Tebet, Tebet ini adalah kantor tempat kerjanya teman dan sekaligus basecame main gamenya teman-teman. Kami hanya berdua ke Kawah Ratu karena yang lain sedang sibuk. Membawa peralatan wajib seperti Tenda, Sleeping Bag, Matras namun kami lupa membawa kompor (jangan lakukan ini, periksa bawaan anda sebelum pergi).
Perjalanan dari Tebet ke Cidahu sekitar 3 Jam, namun kami tidak langsung ke Cidahu. Kami berhenti sarapan dan berbincang dengan temannya Bang Dony yang kebetulan tinggal di daerah Sukabumi. Sekitar pukul 10 kami melanjutkan ke Cidahu, suasana masih cukup asri dan masyarakat masih kental dengan Bahasa Sunda. Kami berhenti untuk membeli logistik (beras, mie, air, spirtus, tisu) dengan uang seadanya yang kami punya. Memang minim persiapan, tapi kami yakin siap untuk ini.
![]() |
| Gerbang Masuk Salak 1 |
Sampai di pintu masuk kawasan Gunung Halimun Salak, kami membawar perizinan dan mengisi identitas. Izin 1 malam untuk menginap dan berkunjung ke Kawah Ratu. Kami melanjutkan perjalanan ke Warung Kopi dengan niatan menitipkan sepeda motor. Cuaca sangat cerah, di warung ini ada gadis desa yang berjualan yang ternyata primadona para pendaki yang mampir. Pantas saja Bang Dony betah di sini.
Kami mencari lokasi mendirikan tenda, kami tidak naik ke gunung salak sore ini tapi hanya tinggal di camp ground. Lokasinya berundak, dan jika cuaca cerah akan tampak seperti bukit berbintang. Malam itu cuaca cukup dingin, Bang Dony tidur dulu kemudian saya. Sempat terbangun beberapa kali karena suhu yang super dingin, dan tidak terasa ternyata pagi telah menyapa. Seusai Sholat subuh kami ke warung untuk memesan teh hangat. Bang Dony pergi mencuci muka, kemudian menyusul ke warung.
![]() |
| Persimpangan Salak 1 |
Kami sampai di lapangan mungkin ini sebuah tempat camping, terus berjalan kami mencari kaleng susu bekas untuk membuat kompor. Setelah ketemu, kami menggelar matras untuk santai di bawah rimbunan pohon yang tidak kami jumpai di Jakarta. Membuat kopi dan berfoto ria hehehe. Di sini kami berhenti sekitar 1 jam, cukup lama karena Kawah Ratu sudah sangat dekat dan hari masih belum benar-benar siang. Kami melanjutkan perjalanan ke arah kawah ratu, kemudian turun untuk berfoto.
Perjalanan cukup mudah untuk sampai di sini, bahkan ada beberapa ibu-ibu datang ke sini. Anda harus mencobanya, ke Kawah Ratu untuk berfoto ria menikmati indahnya alam Tuhan Yang Maha Esa.
![]() |
| Kawah Ratu |
@2017, copyright Jejak Si Dhodhy
Bonus
Leuwi Hejo - Motoran
August 24, 2017
Leuwi Hejo
Ini adalah perjalanan yang sudah cukup lama, ini cerita saat
saya masih di Jakarta. Ku merindukannya, Jakarta.
Leuwi Hejo adalah salah satu air terjun di daerah Sentul –
Bogor. Kurang lebih 65km dari Jakarta pusat tempat kami memulai perjalanan.
Tidak ada yang tau persis lokasinya ada di mana, namun ini akan serasa begitu
menarik karena bersama banyak orang. Seperti perjalanan lain saya yang harus
mencari arah, kami menggunakan GPS sebagai panduan.
Kami memulai perjalanan sekitar pukul 8, sangat siang,
sangat telat ya begitulah. Kami menunggu A, A menunggu B, B menunggu C hahaha….
Kami memulai perjalanan dengan doa, berharap hari yang indah menemani kami hari
ini. Perjalanan ke Cibinong tidak ada masalah apapun, kami sudah terbiasa
melakukan perjalanan ke arah Bogor. Dari perempatan besar kita belok ke kiri
arah ke Sirkuit Sentul, kami lalu belok kanan ke arah Sentul.
Jalan tak selamanya mulus, jalan daerah sini masih tidak
sebagus sekarang. Kemudian ada pertigaan, kami belok kiri ke arah Babakan Madang
menuju arah Jungle. Kami sempat berhenti sebentar memastikan arah yang kami
lalui benar, kemudian kami lanjut perjalanan ke arah Leuwi Hejo. Ada Hutan
Pinus gunung Pancar, dari sini kita belok kiri kurang lebih 7 km. Jalan tidak
cukup baik, kami harus pelan memilah jalan yang bagus. Kemudian akan dijumpai
jalan turun menuju sebuah jembatan yang langsung dibalas tanjakan cukup
ekstreem.
Dari tanjakan iki perjalan masih belum usai, jalanan masih
belum ada tanda akan segera sampai. Kita berhenti di sebuah warung es untuk
beristirahat dan berfoto. Kami yakin ini sudah sangat dekat, sekitar 15 menit
kami melanjutkan perjalanan ke arah Leuwi Hejo. Sekitar 10 menit kami sampai di
pintu gerbangnya. Membayar tiket masuk, parkir kemudian berjalan sekitar 10 menit
sampai di curug Leuwi Hejo. Suasana cukup ramai, bahkan dibilang sangat ramai.
Mencari tempat aman untuk tas yang terlihat oleh kami,
beberapa tidak turun ke air. Saya melangkah ke arah air terjun yang agak susah
dilalui, ada Usnan dan Dody yang ikut bersama. Melompat dari batu besar kami
merasa ini adalah sebuah kegembiraan. Namun kami tidak bisa lama karena hari
mulai gelap karena mendung. Tak terasa sudah 2 jam kami berada di air, Kami
berlanjut naik menyantap Mie beserta Teh hangat yang sangat nikmat. Kami tidak
bisa berlama-lama karena aroma hujan sudah mulai terasa.
Setelah bilas, kami pergi pulang. Apakah kami kehujanan? Iya
kami basah kuyub dari parkiran hingga Jakarta. Sempat berhenti di Masjid
Andalusia untuk Sholat, berhenti di warung untuk beli teh hangat karena teman
kami sakit. Mungkin ini hanyalah perjalanan yang singkat, tapi saya tidak bisa
melupakannya. Kenangan yang tercipta seakan sulit untuk hilang.
“Bahagian bukanlah keindahan saat engkau bisa mencapainya,
tapi bagaimana keindahan itu menjadi kenangan yang tak kau lupakan” - #DR
Stray to the eastern part of Malang
August 10, 2017
![]() |
| Kampung Warna Warni |
The morning in Malang is quite cold still not used to me. Last night I stayed at one of my friend's house in Malang. I went to poor yesterday afternoon just to meet one of my good friends from Jakarta. After talking and having dinner together, we split up, he went to the hotel and me to my friend's house. I was lucky, because my friend did not return to Tuban that day.
![]() |
| Rawon |
I went eastward, I do not know what this area is. I go north, passing Universitas Negeri Malang campus 2, still continue to see a sign to the direction of Tumpang. All I know, Tumpang is the village of mountaineers started using Jeep to Semeru. I am very curious about the area that many people talk about, there is a fork and I turn right.
The streets are quite deserted, cool air typical of Malang which is a highland and beautiful nature is still more value. From a distance I saw a carrier bag there he was over the blue (angkot) car directions to Tumpang. The path is smooth and the scenery of rice fields along the way adds to the beautiful atmosphere of this area. After passing through the gate Tumpang after that you can turn right is the direction to Bromo and Semeru then to the left is the direction to Tumpang market.
![]() |
| View before Coban Pelangi |
I'm headed right, my goal is as far as I can go. I passed the uphill streets. The directions are very clear here, I choose the direction of Bromo / Semeru. Crossed several jeeps from my front, almost nothing was empty. A jeep overtook me carrying foreign tourists complete with their big carrier bag on the car. I rode my motorcycle casually and unknowingly entered the forest area.
just see entrance gate of Coban Pelangi, some beautiful photo spots are also a lot here. And finally I met the entrance of Bromo Tengger Semeru. Previously I've been to Bromo but through Probolinggo and Pasuruan ( Read this ), this is a new experience for me. I do not go to the gate because it only brings a little money .... hehehehe
![]() |
| Gate entrance of Bromo Tengger Semeru |
For me this simple journey is just an irreplaceable piece of excitement. Writing it down would not be as beautiful as his journey.
My Foto : Click Here
@2017, copyright Jejak Si Dhodhy
wisata malang - Nyasar
August 10, 2017
![]() |
| Kampung Warna Warni |
![]() |
| Rawon |
Aku pergi ke timur, aku tidak tahu apa daerah ini. Saya ke utara, melewati kampus Universitas Negeri Malang 2, masih terus melihat tanda ke arah Tumpang. Yang saya tahu, Tumpang adalah desa pendaki gunung yang mulai menggunakan Jeep ke Semeru. Saya sangat penasaran dengan area yang banyak orang bicarakan, ada garpu dan saya berbelok ke kanan.
Jalan-jalan cukup sepi, udara sejuk khas Malang yang merupakan dataran tinggi dan indahnya alam masih lebih bernilai. Dari kejauhan aku melihat tas pembawa di sana dia melewati arah mobil biru (angkot) ke Tumpang. Jalannya mulus dan pemandangan sawah di sepanjang jalan menambah suasana indah daerah ini. Setelah melewati gerbang Tumpang setelah itu anda bisa berbelok ke kanan adalah arah ke Bromo dan Semeru lalu ke kiri adalah arah ke pasar Tumpang.
Jalan-jalan cukup sepi, udara sejuk khas Malang yang merupakan dataran tinggi dan indahnya alam masih lebih bernilai. Dari kejauhan aku melihat tas pembawa di sana dia melewati arah mobil biru (angkot) ke Tumpang. Jalannya mulus dan pemandangan sawah di sepanjang jalan menambah suasana indah daerah ini. Setelah melewati gerbang Tumpang setelah itu anda bisa berbelok ke kanan adalah arah ke Bromo dan Semeru lalu ke kiri adalah arah ke pasar Tumpang.
![]() |
| View before Coban Pelangi |
Saya menuju ke kanan, tujuan saya sejauh saya bisa pergi. Aku melewati jalan menanjak. Petunjuknya sangat jelas disini, saya pilih arah Bromo / Semeru. Melintasi beberapa jip dari depan saya, hampir tidak ada yang kosong. Sebuah jip menyalip saya membawa turis asing lengkap dengan tas besar mereka di mobil. Saya mengendarai sepeda motor saya dengan santai dan tanpa sadar memasuki kawasan hutan.
Tengok saja pintu masuk Coban Pelangi, beberapa spot foto cantik juga banyak di sini. Dan akhirnya saya ketemu pintu masuk Bromo Tengger Semeru. Sebelumnya saya pernah ke Bromo tapi melalui Probolinggo dan Pasuruan (baca ini), ini adalah pengalaman baru buat saya. Saya tidak pergi ke pintu gerbang karena hanya membawa sedikit uang .... hehehehe
Tengok saja pintu masuk Coban Pelangi, beberapa spot foto cantik juga banyak di sini. Dan akhirnya saya ketemu pintu masuk Bromo Tengger Semeru. Sebelumnya saya pernah ke Bromo tapi melalui Probolinggo dan Pasuruan (baca ini), ini adalah pengalaman baru buat saya. Saya tidak pergi ke pintu gerbang karena hanya membawa sedikit uang .... hehehehe
![]() |
| Gate entrance of Bromo Tengger Semeru |
Bagiku perjalanan sederhana ini hanyalah sebuah kegembiraan yang tak tergantikan. Menuliskannya tidak akan seindah perjalanannya.
My Foto : Click Here
@2017, copyright Jejak Si Dhodhy
Krawak, this is Water Source
August 07, 2017
Sunday - August 6, 2017
A sunny day this morning after a four-hour journey yesterday afternoon from Sidoarjo to Tuban (my home). Today I have an agenda for cycling / GOWES to one of the tourist destinations in my area. I was last here when I was in high school about ten years ago. After taking my mother to the market for shopping, washing my bike and breakfast I started this journey.
Prayer this morning I hope there is a beautiful story that I can share later. Pannier's back was ready on the bike, I brought a change shirt, towel, nesting, stove, water and coffee. The knives and ropes I put on the outside. I had to hurry before the weather got hotter, because the road I would pass was mostly in the paddy field.
08.45 I started my journey, bumped into my friends. I walked through my village about 5 minutes and then went into the rice fields. The weather was so sunny this morning, there was hardly any view other than the rice fields and the small mountains on the north side. Finally I reached the village of Laju Kidul, the streets slightly more slowly as it passes through the market toward the Bakalan.
After that, the path is slightly uphill - + 200meter. Continue to paddle past the gas station, paddy field then meet the intersection. Here I choose straight, actually there are two paths that can be passed, left or straight but in general people choose left towards Tuban. I am straight until I enter the market area of Jojogan, from here I turn left. The steep climbing road, 200 meters before reaching the Tuban highway - my stopover decided to go down to walk my bike.
I pulled over to the ice shop about 15 minutes then went on the road, flat road then up and down past Nglirip Waterfalls, more or less 1.5 km into the forest area. After the Singgahan - Montong border, there is a street down on the right side of the road, I entered very slowly. Looking for a place I can use to park my bike, and after ten years I finally come here again.
I look around to find a spot to put bags and make coffee. I began to descend into the water, feeling refreshed. My stove turns on to make coffee. After my one and a half hour trip all paid off. The water is only 1 meter high, but it's very fresh to swim.
Entrance Ticket = Free
Parking Motorcycle = You simply buy snacks at the stall
Note: Now there's a tubing ride here ...
#Tuban
#VisitTuban
# VisitTuban2017
#JawaTimur
#EastJava
@2017, copyright Jejak Si Dhodhy
Other Photo : Click Here
A sunny day this morning after a four-hour journey yesterday afternoon from Sidoarjo to Tuban (my home). Today I have an agenda for cycling / GOWES to one of the tourist destinations in my area. I was last here when I was in high school about ten years ago. After taking my mother to the market for shopping, washing my bike and breakfast I started this journey.
![]() |
| My Bike with homemade pannier |
08.45 I started my journey, bumped into my friends. I walked through my village about 5 minutes and then went into the rice fields. The weather was so sunny this morning, there was hardly any view other than the rice fields and the small mountains on the north side. Finally I reached the village of Laju Kidul, the streets slightly more slowly as it passes through the market toward the Bakalan.
![]() |
| Stall @Tuban-Singgahan street |
I pulled over to the ice shop about 15 minutes then went on the road, flat road then up and down past Nglirip Waterfalls, more or less 1.5 km into the forest area. After the Singgahan - Montong border, there is a street down on the right side of the road, I entered very slowly. Looking for a place I can use to park my bike, and after ten years I finally come here again.
![]() |
| Swim @Krawak Source |
Entrance Ticket = Free
Parking Motorcycle = You simply buy snacks at the stall
Note: Now there's a tubing ride here ...
#Tuban
#VisitTuban
# VisitTuban2017
#JawaTimur
#EastJava
![]() |
| from other side |
Other Photo : Click Here








