Showing posts with label East Java. Show all posts
Showing posts with label East Java. Show all posts
Gunung Penanggungan - kangen
October 14, 2017
![]() |
| Keindahannya lebih nyata dari yang orang ceritakan |
Hari itu pas Idul Adha, ya saya masih jadi anak kosan yang setia banget sama kosan. Dari usai Sholat Eid sampai Jumatan nggak ada
kegiatan apapun, nanti seusai sholat jumat ada tugas bagi-bagi daging Qurban sih, lalu habis itu? hah.. mulai jenuh lagi kan
kegiatan apapun, nanti seusai sholat jumat ada tugas bagi-bagi daging Qurban sih, lalu habis itu? hah.. mulai jenuh lagi kan
Lirik kanan, kiri, atap tembok semua... OMG, mungkin gini rasanya burung tinggal di kandang...
Tapi ada satu benda yang membuatku melirik lebih lama dan seakan berbicara dengan benda itu "Kau ini belum pernah maen kotor-kotoran sehabis DLT, Pergi nggak...?" Kemudian lirik mata ke arah Pegagus 3, mulai buka-buka Mbah Google, buka Maps... "Sip, ini aja.. Oi... siap kan? kita jalan kali ini" (sambil lirik si merah).
Hari itu masih sekitar pukul 10 pagi, masih ada 1,5 jam sebelum jumatan. Mulai cek Tenda, Pakaian ganti, kompor, nesting, matras, air, P3K, tali prusik 4 mm, topi, kompas, sendal, jaket... yups udah semua. Packing, dan.... "Ni tenda Pasaknya kemana ya..." Sedikit putus asa rasanya. Udah nggak apalah, entar nyari jari-jari motor aja di bengkel. Nggak terasa sudah hampir jam 11.30, Bergegas mandi, pakai sarung, Baju Rapi, cusss masjid.
Seusai Jumatan, saya kembali ke kosan sejenak untuk ganti pakaian. Hari ini saya ada tugas membagi daging Qurban. Pukul 15.30 seusai sholat Ashar daging mulai dibagi. Sekitar 30 menit semua danging sudah ludes terbagi. Saya berbincang dengan Mas Adi
D: "Mas, nanti ada acara nggak? besok juga sih"
A: "Nggak ada Mas, kenapa?
D: "Ayo naik Gunung Penanggungan Mas"
A: "Loh, kapan Mas?"
D: "Yo sekarang Mas"
A: "Yaudah ayo"
Akhirnya ada temen, Saya sama sekali belum pernah naik gunung dan saat perjalanan ke Tamiajeng (Jalur Pendakian Gunung Penanggungan) saya baru tau kalau Mas Adi juga belum pernah naik gunung. Kami mampir di mini market untuk beli Air dan sedikit cemilan. Dengan modal GPS Google Maps akhirnya sampai juga di Pos Tamiajeng.
Parkir di sini Rp 10.000, bayar dimuka. Lalu ke Pos Pendakian untuk laporan izin pendakian malam itu. Hanya tulis nama + bayar masuk 10rb/orang kami mendapat izin masuk. Sebelum masuk, kami mendapat arahan dari petugas mengenai rute dan aturan-aturan yang harus kami taati. Kalian harus menyiapkan 2 botol air/orang untuk pendakian Gunung Penanggungan. Di sini tidak ada sumber air kecuali di pos Pendaftaran.
Kami tidak langsung naik, mengisi perut di warung dengan Nasi+mie goreng+teh hangat. Sekitar pukuk 23.00 kami baru memulai pendakian. Sebelum kami naik,ada beberapa rombongan besar yang naik jadi kami pikir, akan serasa terlalu ramai jika kami berangkat saat itu. Saat diperjalanan, kami sempatkan mencari batang bambu kecil untuk pasak tenda nantinya.
Pos 1 ke Pos 2
Jalurnya masih landai, bahkan turun. Jalurnya berbatu, mesti berhati-hati karena jika jatuh pasti sangat sakit. Satu senter yang kami nyalakan hanya untuk berhemat sebenarnya. Tidak begitu lama kami sampai di Pos 2 berhadapan dengan warung-warung tutup malam itu. Kami tidak berhenti di sini, jalur masih panjang karena masih panjang untuk sampai di Puncak Bayangan.
Pos 2 ke Pos 3
Jalur mulai agak menanjak, tapi belum ekstreem. Masih cukup landai, bahkan ada jalan yang sudah tertata rapi untuk dilalui. Kontur jalan, tanah dan menurut saya jika hujan akan sangat becek. Sebelum Pos 3 kami berhenti sejenak untuk ngobrol dan minum. Ada rombongan yang sempat kami lewati, kini gantian menyalip kami. "Amit Mas" khas banget lah... hehehe (maaf ya kalau saya norak). Kami lanjut ke Pos 3 lalu beristirahat sejenak. Ternyata rombongan ini dari Jombang, anak pondok yang lagi liburan. Mereka udah pernah naik ke beberapa gunung (Kalau jauh saya... hahaha).
Secara tidak langsung mereka mengajak kami untuk bareng. Kami tidak menolak dan tidak juga menerimanya, tiba-tiba aja berjalan dalam rombongan cukup besar. Mereka sebenarnya cukup ramah, tapi bagi saya mereka terlalu berisik. Kami berhenti di pos 4, cukup lama di sini. Perbincangan mereka lebih ke guyonan remaja jaman Now yang tak tau etika. Mas Adi mengajak saya melanjutkan perjalanan, ternyata mereka juga lanjut.
![]() |
| Saya, Tenda dan Gunung Penanggungan di Puncak Bayangan |
Pos 4 ke Puncak BayanganMereka mulai berhenti lagi padahal belum ada 10 menit berjalan, saya dan Mas Adi memutuskan untuk terus melangkah. Pemandangan malam itu cukup indah bagi saya karena bintang, bulan dan kota kecil di selatan Gunung Penanggungan tampak gemerlap lampunya menampakkan suasana yang berbeda dari hari-hari biasanya. tidak ingat berapa lama kami berjalan, tapi ini cukup terjal hingga sampai ke puncak bayangan. Di sini kami hampir tidak memiliki lahan untuk mendirikan tenda, semua sudut terpenuhi tenda warna-warni. "Mas di sini aja, nanti saya yang atur. Mas Adi masuk pas tendanya sudah jadi, istirahat duluan aja nanti", ucap saya. 10 menit tenda telah berdiri tanpa pasak, iya tanpa pasak. Apa kalian ingat, di awal saya cerita bahwa saya tidak bawa pasak dan hanya menggunakan ranting bambu? di sini saya baru membuat pasak. Semua barang saya masukan, tapi saya tidak bisa tertidur karena takut telat subuh. Bikin kopi, dan menikmatinya sembari memandangi langit nan indah.
Puncak Bayangan ke Puncak
Sebenarnya Mas Adi ingin berburu matahari terbit, tapi dia malah terlelap lagi setelah subuh. Saya membuat mie untuk kami makan, sedikit mengelap muka dengan tisu basah dan cus ke Puncak. Kami berbekal biskuit dan 3/4 botol 1,5 liter air minum, serta barang yang tak pernah lupa untuk dibawa yakni P3K. Diperjalanan kami sebenarnya bisa sampai lebih cepat, namun ada rombongan kecil yang mungkin sedikit membutuhkan pertolongan kami. Bukan bermaksud sok pahlawan, kami menemani mereka hingga puncak begitu juga Mas Ihsan dan temannya (lupa namanya).
Rutenya berbatu dan pasir, bahanya jika ada batu jatuh seakan kayak di film 5cm. 1,5 jam kita sampai di puncak dan duduk berbincang dengan Mas Ihsan. Sempat ada seorang trail runner ke puncak dan kami sempat minta tolong di fotoin, masnya ramah dan humoris.
Gambaran Puncak sih penuh dengan rumput, ilalang, berpasir, ada cekungan di tengahnya serta ada sebuah makam di cekungan itu. Dari puncak kita bisa melihat gagahnya Arjuna, Welirang bahkan tampak dibalik awan sosok Semeru yang perkasa.
Ini adalah pertama kali saya benar-benar naik gunung dan sampai di puncak. Bagi saya, tidak heran begitu banyak orang ingin menikmati nikmatnya berada di atas sana, menurut saya prosesnya lebih menarik untuk dinikmati.
Note : kami turun jam 12.15, sampai bawah mungkin sudah jam 15.15an.
Foto Lainnya : Klik di sini
Rutenya berbatu dan pasir, bahanya jika ada batu jatuh seakan kayak di film 5cm. 1,5 jam kita sampai di puncak dan duduk berbincang dengan Mas Ihsan. Sempat ada seorang trail runner ke puncak dan kami sempat minta tolong di fotoin, masnya ramah dan humoris.
Gambaran Puncak sih penuh dengan rumput, ilalang, berpasir, ada cekungan di tengahnya serta ada sebuah makam di cekungan itu. Dari puncak kita bisa melihat gagahnya Arjuna, Welirang bahkan tampak dibalik awan sosok Semeru yang perkasa.
Ini adalah pertama kali saya benar-benar naik gunung dan sampai di puncak. Bagi saya, tidak heran begitu banyak orang ingin menikmati nikmatnya berada di atas sana, menurut saya prosesnya lebih menarik untuk dinikmati.
Note : kami turun jam 12.15, sampai bawah mungkin sudah jam 15.15an.
Foto Lainnya : Klik di sini
@2017, copyright Jejak Si Dhodhy
Krawak tuban - sumber air alami
September 25, 2017
Minggu, 6 Agustus 2017
Hari yang cerah pagi ini setelah pejalanan 4 jam kemarin sore dari Sidoarjo ke Tuban (rumah saya). Hari ini saya ada agenda untuk bersepeda/GOWES ke salah satu destinasi wisata di daerahku. Saya terakhir ke sini saat saya masih sekolah menengah pertama sekitar sepuluh tahun lalu. Setelah mengantar ibu ke pasar untuk berbelanja, mencuci sepeda dan sarapan saya memulai perjalanan ini.
Doa pagi ini saya berharap ada cerita indah yang dapat ku bagikan nanti. Pannier belakang sudah siap di sepeda, saya membawa kaos ganti, handuk, nesting, kompor, air dan kopi. Pisau dan tali perusik saya taruh di bagian luar. Saya harus bergegas sebelum cuaca semakin panas, karena jalan yang akan saya lalui sebagian besar di daerah persawahan.
08.45 saya mulai perjalanan saya, berpapasan dengan teman-teman saya. Saya menyusuri desa saya sekitar 5 menit lalu masuk ke area persawahan. Cuaca sangat cerah pagi ini, hampir tidak ada pemandangan lain selain sawah dan pegunungan kecil di sisi utara. Akhirnya saya sampai di desa Laju Kidul, jalanan sedikit lebih pelan saat melewati pasar menuju pertigaan Bakalan.
selepas itu, jalan sedikit menanjak -+ 200meter. terus mengayuh melewati pom bensin, persawahan lalu berjumpa dengan perempatan. di sini saya memilih lurus, sebenarnya ada dua jalur yang bisa di lalui, kiri atau lurus namun pada umumnya masyarakat memilih kiri ke arah Tuban. Saya lurus hingga masuk wilayah pasar Jojogan, dari sini saya belok ke kiri. Jalan naik curam,200 meter sebelum sampai di jalan raya Tuban - Singgahan saya memutuskan turun untuk berjalan kaki menuntun sepeda saya.
Saya menepi ke warung es sekitar 15 menit lalu melanjutkan perjalanan, jalanan datar kemudian naik turun melewati Air Terjun Nglirip, lanjut lagi kurang lebih 1,5 km masuk ke wilayah hutan. Setelah perbatasan Singgahan - Montong, ada jalanan turun di kanan jalan, saya masuk dengan sangat pelan. Mencari tempat yang bisa saya gunakan untuk parkir sepeda, dan setelah sepuluh tahun akhirnya saya ke sini lagi.
Saya melihat-lihat untuk mencari spot menaruh tas dan membuat kopi. saya mulai turun ke air, merasakan segarnya. kompor saya nyalakan untuk membuat kopi. setelah perjalanan satu setengah jam ku lalui semua terbayarkan. Tinggi air hanya 1 meter, tapi ini sangat segar untuk berenang.
Tiket Masuk = Gratis
Parkir Sepeda Motor = Anda cukup membeli jajanan di warung
Note : Sekarang ada wahana tubing di sini...
#Tuban
#VisitTuban
#VisitTuban2017
#EastJava
#JawaTimur
@2017, copyright Jejak Si Dhodhy
Hari yang cerah pagi ini setelah pejalanan 4 jam kemarin sore dari Sidoarjo ke Tuban (rumah saya). Hari ini saya ada agenda untuk bersepeda/GOWES ke salah satu destinasi wisata di daerahku. Saya terakhir ke sini saat saya masih sekolah menengah pertama sekitar sepuluh tahun lalu. Setelah mengantar ibu ke pasar untuk berbelanja, mencuci sepeda dan sarapan saya memulai perjalanan ini.
Doa pagi ini saya berharap ada cerita indah yang dapat ku bagikan nanti. Pannier belakang sudah siap di sepeda, saya membawa kaos ganti, handuk, nesting, kompor, air dan kopi. Pisau dan tali perusik saya taruh di bagian luar. Saya harus bergegas sebelum cuaca semakin panas, karena jalan yang akan saya lalui sebagian besar di daerah persawahan.
08.45 saya mulai perjalanan saya, berpapasan dengan teman-teman saya. Saya menyusuri desa saya sekitar 5 menit lalu masuk ke area persawahan. Cuaca sangat cerah pagi ini, hampir tidak ada pemandangan lain selain sawah dan pegunungan kecil di sisi utara. Akhirnya saya sampai di desa Laju Kidul, jalanan sedikit lebih pelan saat melewati pasar menuju pertigaan Bakalan.
selepas itu, jalan sedikit menanjak -+ 200meter. terus mengayuh melewati pom bensin, persawahan lalu berjumpa dengan perempatan. di sini saya memilih lurus, sebenarnya ada dua jalur yang bisa di lalui, kiri atau lurus namun pada umumnya masyarakat memilih kiri ke arah Tuban. Saya lurus hingga masuk wilayah pasar Jojogan, dari sini saya belok ke kiri. Jalan naik curam,200 meter sebelum sampai di jalan raya Tuban - Singgahan saya memutuskan turun untuk berjalan kaki menuntun sepeda saya.
Saya menepi ke warung es sekitar 15 menit lalu melanjutkan perjalanan, jalanan datar kemudian naik turun melewati Air Terjun Nglirip, lanjut lagi kurang lebih 1,5 km masuk ke wilayah hutan. Setelah perbatasan Singgahan - Montong, ada jalanan turun di kanan jalan, saya masuk dengan sangat pelan. Mencari tempat yang bisa saya gunakan untuk parkir sepeda, dan setelah sepuluh tahun akhirnya saya ke sini lagi.
Saya melihat-lihat untuk mencari spot menaruh tas dan membuat kopi. saya mulai turun ke air, merasakan segarnya. kompor saya nyalakan untuk membuat kopi. setelah perjalanan satu setengah jam ku lalui semua terbayarkan. Tinggi air hanya 1 meter, tapi ini sangat segar untuk berenang.
Tiket Masuk = Gratis
Parkir Sepeda Motor = Anda cukup membeli jajanan di warung
Note : Sekarang ada wahana tubing di sini...
#Tuban
#VisitTuban
#VisitTuban2017
#EastJava
#JawaTimur
@2017, copyright Jejak Si Dhodhy
Stray to the eastern part of Malang
August 10, 2017
![]() |
| Kampung Warna Warni |
The morning in Malang is quite cold still not used to me. Last night I stayed at one of my friend's house in Malang. I went to poor yesterday afternoon just to meet one of my good friends from Jakarta. After talking and having dinner together, we split up, he went to the hotel and me to my friend's house. I was lucky, because my friend did not return to Tuban that day.
![]() |
| Rawon |
I went eastward, I do not know what this area is. I go north, passing Universitas Negeri Malang campus 2, still continue to see a sign to the direction of Tumpang. All I know, Tumpang is the village of mountaineers started using Jeep to Semeru. I am very curious about the area that many people talk about, there is a fork and I turn right.
The streets are quite deserted, cool air typical of Malang which is a highland and beautiful nature is still more value. From a distance I saw a carrier bag there he was over the blue (angkot) car directions to Tumpang. The path is smooth and the scenery of rice fields along the way adds to the beautiful atmosphere of this area. After passing through the gate Tumpang after that you can turn right is the direction to Bromo and Semeru then to the left is the direction to Tumpang market.
![]() |
| View before Coban Pelangi |
I'm headed right, my goal is as far as I can go. I passed the uphill streets. The directions are very clear here, I choose the direction of Bromo / Semeru. Crossed several jeeps from my front, almost nothing was empty. A jeep overtook me carrying foreign tourists complete with their big carrier bag on the car. I rode my motorcycle casually and unknowingly entered the forest area.
just see entrance gate of Coban Pelangi, some beautiful photo spots are also a lot here. And finally I met the entrance of Bromo Tengger Semeru. Previously I've been to Bromo but through Probolinggo and Pasuruan ( Read this ), this is a new experience for me. I do not go to the gate because it only brings a little money .... hehehehe
![]() |
| Gate entrance of Bromo Tengger Semeru |
For me this simple journey is just an irreplaceable piece of excitement. Writing it down would not be as beautiful as his journey.
My Foto : Click Here
@2017, copyright Jejak Si Dhodhy
wisata malang - Nyasar
August 10, 2017
![]() |
| Kampung Warna Warni |
![]() |
| Rawon |
Aku pergi ke timur, aku tidak tahu apa daerah ini. Saya ke utara, melewati kampus Universitas Negeri Malang 2, masih terus melihat tanda ke arah Tumpang. Yang saya tahu, Tumpang adalah desa pendaki gunung yang mulai menggunakan Jeep ke Semeru. Saya sangat penasaran dengan area yang banyak orang bicarakan, ada garpu dan saya berbelok ke kanan.
Jalan-jalan cukup sepi, udara sejuk khas Malang yang merupakan dataran tinggi dan indahnya alam masih lebih bernilai. Dari kejauhan aku melihat tas pembawa di sana dia melewati arah mobil biru (angkot) ke Tumpang. Jalannya mulus dan pemandangan sawah di sepanjang jalan menambah suasana indah daerah ini. Setelah melewati gerbang Tumpang setelah itu anda bisa berbelok ke kanan adalah arah ke Bromo dan Semeru lalu ke kiri adalah arah ke pasar Tumpang.
Jalan-jalan cukup sepi, udara sejuk khas Malang yang merupakan dataran tinggi dan indahnya alam masih lebih bernilai. Dari kejauhan aku melihat tas pembawa di sana dia melewati arah mobil biru (angkot) ke Tumpang. Jalannya mulus dan pemandangan sawah di sepanjang jalan menambah suasana indah daerah ini. Setelah melewati gerbang Tumpang setelah itu anda bisa berbelok ke kanan adalah arah ke Bromo dan Semeru lalu ke kiri adalah arah ke pasar Tumpang.
![]() |
| View before Coban Pelangi |
Saya menuju ke kanan, tujuan saya sejauh saya bisa pergi. Aku melewati jalan menanjak. Petunjuknya sangat jelas disini, saya pilih arah Bromo / Semeru. Melintasi beberapa jip dari depan saya, hampir tidak ada yang kosong. Sebuah jip menyalip saya membawa turis asing lengkap dengan tas besar mereka di mobil. Saya mengendarai sepeda motor saya dengan santai dan tanpa sadar memasuki kawasan hutan.
Tengok saja pintu masuk Coban Pelangi, beberapa spot foto cantik juga banyak di sini. Dan akhirnya saya ketemu pintu masuk Bromo Tengger Semeru. Sebelumnya saya pernah ke Bromo tapi melalui Probolinggo dan Pasuruan (baca ini), ini adalah pengalaman baru buat saya. Saya tidak pergi ke pintu gerbang karena hanya membawa sedikit uang .... hehehehe
Tengok saja pintu masuk Coban Pelangi, beberapa spot foto cantik juga banyak di sini. Dan akhirnya saya ketemu pintu masuk Bromo Tengger Semeru. Sebelumnya saya pernah ke Bromo tapi melalui Probolinggo dan Pasuruan (baca ini), ini adalah pengalaman baru buat saya. Saya tidak pergi ke pintu gerbang karena hanya membawa sedikit uang .... hehehehe
![]() |
| Gate entrance of Bromo Tengger Semeru |
Bagiku perjalanan sederhana ini hanyalah sebuah kegembiraan yang tak tergantikan. Menuliskannya tidak akan seindah perjalanannya.
My Foto : Click Here
@2017, copyright Jejak Si Dhodhy
Krawak, this is Water Source
August 07, 2017
Sunday - August 6, 2017
A sunny day this morning after a four-hour journey yesterday afternoon from Sidoarjo to Tuban (my home). Today I have an agenda for cycling / GOWES to one of the tourist destinations in my area. I was last here when I was in high school about ten years ago. After taking my mother to the market for shopping, washing my bike and breakfast I started this journey.
Prayer this morning I hope there is a beautiful story that I can share later. Pannier's back was ready on the bike, I brought a change shirt, towel, nesting, stove, water and coffee. The knives and ropes I put on the outside. I had to hurry before the weather got hotter, because the road I would pass was mostly in the paddy field.
08.45 I started my journey, bumped into my friends. I walked through my village about 5 minutes and then went into the rice fields. The weather was so sunny this morning, there was hardly any view other than the rice fields and the small mountains on the north side. Finally I reached the village of Laju Kidul, the streets slightly more slowly as it passes through the market toward the Bakalan.
After that, the path is slightly uphill - + 200meter. Continue to paddle past the gas station, paddy field then meet the intersection. Here I choose straight, actually there are two paths that can be passed, left or straight but in general people choose left towards Tuban. I am straight until I enter the market area of Jojogan, from here I turn left. The steep climbing road, 200 meters before reaching the Tuban highway - my stopover decided to go down to walk my bike.
I pulled over to the ice shop about 15 minutes then went on the road, flat road then up and down past Nglirip Waterfalls, more or less 1.5 km into the forest area. After the Singgahan - Montong border, there is a street down on the right side of the road, I entered very slowly. Looking for a place I can use to park my bike, and after ten years I finally come here again.
I look around to find a spot to put bags and make coffee. I began to descend into the water, feeling refreshed. My stove turns on to make coffee. After my one and a half hour trip all paid off. The water is only 1 meter high, but it's very fresh to swim.
Entrance Ticket = Free
Parking Motorcycle = You simply buy snacks at the stall
Note: Now there's a tubing ride here ...
#Tuban
#VisitTuban
# VisitTuban2017
#JawaTimur
#EastJava
@2017, copyright Jejak Si Dhodhy
Other Photo : Click Here
A sunny day this morning after a four-hour journey yesterday afternoon from Sidoarjo to Tuban (my home). Today I have an agenda for cycling / GOWES to one of the tourist destinations in my area. I was last here when I was in high school about ten years ago. After taking my mother to the market for shopping, washing my bike and breakfast I started this journey.
![]() |
| My Bike with homemade pannier |
08.45 I started my journey, bumped into my friends. I walked through my village about 5 minutes and then went into the rice fields. The weather was so sunny this morning, there was hardly any view other than the rice fields and the small mountains on the north side. Finally I reached the village of Laju Kidul, the streets slightly more slowly as it passes through the market toward the Bakalan.
![]() |
| Stall @Tuban-Singgahan street |
I pulled over to the ice shop about 15 minutes then went on the road, flat road then up and down past Nglirip Waterfalls, more or less 1.5 km into the forest area. After the Singgahan - Montong border, there is a street down on the right side of the road, I entered very slowly. Looking for a place I can use to park my bike, and after ten years I finally come here again.
![]() |
| Swim @Krawak Source |
Entrance Ticket = Free
Parking Motorcycle = You simply buy snacks at the stall
Note: Now there's a tubing ride here ...
#Tuban
#VisitTuban
# VisitTuban2017
#JawaTimur
#EastJava
![]() |
| from other side |
Other Photo : Click Here
Bromo tour - alone
July 25, 2017
It was
Monday, May 1, 2017 is a national holiday or commonly known as #MayDay. The
streets in Surabaya and Sidoarjo have started to congestion when laborers from
other regions concentrate their destination to the East Java governor's office
that day. Path switching is considered the most telling solution in breaking
down the bottleneck. I do not like to traffic jam, I choose to leave Sidoarjo
trying to a new place that I have never visited.
Capitalize
money Rp 200.000, - I leave with my Motorcycle complete with my jacket and
sandal. There are things that I never forget when leaving the typical cloth of
the Baduy tribe that I bought last November. At 8:00 am I left and did not
forget to breakfast, that morning I ate pecel rice + hot tea for Rp. 9,000,
then I go to gas stations to fill gasoline.
On the way,
I listened to the radio through my earphones to ensure there was no traffic jam
in the places I was going to go. On this trip I went alone, as did my other
trips. For me to go alone is one thing that can create inner peace. Previously
I've been to Bogor itself from Jakarta, around Jakarta itself, to Semarang
itself, to Malang itself and some other places. There is always a calming
story.
Route My
trip this time to Sidoarjo -> Porong -> Gempol then I will determine my
direction later. I have two directions to my destination, to Malang or east to
Pasuruan. I choose to Pasuruan because I really have never been here, I just
want to find a new place that I have never visited. The streets had jammed when
I arrived in Pasuruan, many protesters who had just arrived using motorcycles,
trucks and buses. I do not remember what time I arrived in Pasuruan, but it
seemed a long time.
My journey
continues to Probolinggo, the reason is because I see Probolinggo writing on
the same line. A little smile looked southward and for a moment saw the map
"Bromo is there". But I still do not want to go to Bromo. I continued
my trip to Proboliggo with the aim of the main square and Probolinggo mosque.
Down the street for a few hours, I finally arrived at Probolinggo City. Looking
around the square to look for spots and parking lots I see the mosque. I
decided to go to the mosque to pray dhuhur.
![]() |
| Coconut Milk |
But it
seems I did not find the place I finally decided to return to Pasuruan because
tomorrow morning I have to work. But this trip was not over yet, I see a board
with the words "Bromo" leads to the left. Without lingering thinking
I turned left and started down a path that was very strange to me. Some time
the road began to climb, I almost run out of gas here. I filled my petrol and
went on the way up until I finally got to the entrance to Bromo area. Here the
air began to cool even though the afternoon sun was very bright. Paid admission
and I started to feel the whisper of sand Bromo told many people. I targeted at
3 o'clock already down because I did not want to be too dark to be on the road.
![]() |
| Pasir Berbisik |
On my way
home, I was surrounded by a fog that began to blanket this place. I need to be
quick before everything gets really cold. This path is completely unfamiliar to
me, as if there is no end. I've been through it for quite a while but not yet
out of this place. I paused to pray in the mosque ashar. No more than 10
minutes from the mosque, I began to find a great way to return to Sidoarjo.
I arrived
at Sidoarjo at 7, then paused to eat Soto ayam. On the way if you are able to
give thanks all will be beautiful.
#DR
















