Gowes cantik
November 15, 2017
![]() |
| saya dengan EL |
Gowes, siapa yang nggak pernah?
Kali ini, saya akan memberikan tips gowes cantik. Apa itu gowes cantik? istilah ini saya ambil dari kumpulan bahasa jawa. Bagi saya Cantik adalah :
C : CermatA : Ati-atiN : NarimoT : Tegen
I : Ingsun
K : Kuasa
apa maksudnya?
- Cermat
Cermat adalah Teliti sebelum dan saat melakukan sesuatu. Cermat itu penting, misalnya kita mau gowes hal yang paling utama harus kita lakukan adalah meneliti sepeda kita apakah layak atau tidak. Misalnya jika kita ada rencana gowes jarak jauh Jakarta - Semarang yang bisa menempuh jarak 460-500 km dengan perkiraan waktu dengan kecepatan normal 130-150 km/hari ini akan menempuh minimal 3 hari. Sudah siapkah sepeda kita? bannya gimana? remnya gimana? tas panniernya gimana? lampu senternya gimana dll.
Bukan hanya pada sepeda, kita juga harus cermat pada diri kita sendiri. Cermat yang bagaimana? cermat yang jujur akan kemampuan diri kita saat itu. Kita ada rencana gowes Jakarta - Semarang tapi kita baru sembuh dari sakit, apa kita tetap harus pergi?
- Ati-ati
Setelah kita cermat dengan sepedanya, peralatannya dan diri kita sendiri, dalam sebuah kegiatan gowes perlu adanya ke ati-atian. Ini sangat penting, karena tidak akan sampai kita pada satu tempat jika kita tidak mampu untuk berhati-hati.
![]() |
| Ban pecah/bocor |
- Narima
Narima atau narimo dalam bahasa Indonesia adalah Menerima. Narima yang saya maksud adalah siap menerima apapun yang terjadi di sebuah perjalanan. Gowes adalah perjalanan yang sangat tidak bisa diprediksi. Kita bisa mencoba membuat sebuah rencana untuk sebuah perjalanan yang indah, namun apa yang terjadi belum tentu sama. "Narima apa ingkang sampun dados panggarisipun Pangeran ingkang Saha Ageng" = menerima apa yang sudah digariskan oleh Tuhan YME, adalah salah satu jalan terbaik untuk sebuah perjalanan indah.
Narima konteksnya lebih ke bersyukur apapun yang terjadi diperjalanan, kadang indah lebih indah dari intan kadang lebih buruk dari kenangan masa lalu. Gowes akan menjadikan anda mengerti, kehidupan yang terkadang terlewatkan oleh kita saat menggunakan transportasi lain. Kita harus menerima itu, apapun itu. Kadang kalian akan melihat lebih dekat bagaimana seorang manusia hidup dibawah kolong jembatan, atau mungkin tiba-tiba kalian mendapat minuman gratis dari pembeli di warung kalian singgahi. Kalian harus siap menerima itu, cerita yang sulit untuk terulang diwaktu yang berbeda.
- Tegen
Tegen dalam Bahasa Jawa juga berarti jejeg. Dalam Bahasa Indonesia ini dapat diartikan tegak dan tidak goyah. Tegen itu kadang berarti juga kalian benar-benar siap untuk bersepeda bukan cuma karena bisa tapi kalian mampu untuk melakukan itu. Tegen biasanya lebih ke kemampuan kalian saat melewati rintangan tak terduga. Misal saat kalian lewat pembatas sawah, atau pinggiran irigasi yang terkadang membuat mereka yang tidak tegen bakal jatuh. Mungkin tegen adalah tingkatan menggunakan sepeda dari pemula hingga mahir.
![]() |
| Se-safety mungkin |
- Ingsun
Ingsun adalah niat, untuk apa perjalanan kita, untuk apa kita berlelah diri, untuk apa kita meninggalkan satu tempat menuju tempat lainnya? ini adalah ingsun. Niat awal akan mempengaruhi sebuah perjalanan, misalkan kalian memiliki rencana touring dari Jakarta ke Semarang yang kurang lebih menempuh waktu 4 hari, ya niatkan kalian "sampai di semarang hari..... jam.... untuk ini...." bagaimana niat kalian akan mempengaruhi perjalanan kalian. jika kalian ragu dengan niat kalian, kalian akan ragu juga dengan perjalanan kalian
- Kuasa
Kita sampai di Cantik yang terakhir yaitu Kuasa. Kuasa adalah kehendak, kehendak siapa? kehendak Tuhan Yang Maha Esa. Kalian telah melakukan semuanya CANTI tanpa K kalian tak akan mempu mencapai apa yang kalian Ingsunkan. Semua tidak lepas dari kuasa-Nya, dan biasanya goweser merasakan perjalanan spiritual saat melakukan perjalanan jauh.
Sebuah kegiatan bersepeda adalah kegiatan sederhana yang siapapun mampu melakukannya jika dia mau. Saya pernah menonton sebuah video seseorang melakukan perjalanan dengan satu kaki, dan itu membuat saya yakin semua mampu. Tetaplah bersepeda dan jadikan sepedamu menjadi dirimu. Tanpanya engkau hampa, tanpamu dia bukan siapa.
@2017, copyright Jejak Si Dhodhy
Gunung Penanggungan - kangen
October 14, 2017
![]() |
| Keindahannya lebih nyata dari yang orang ceritakan |
Hari itu pas Idul Adha, ya saya masih jadi anak kosan yang setia banget sama kosan. Dari usai Sholat Eid sampai Jumatan nggak ada
kegiatan apapun, nanti seusai sholat jumat ada tugas bagi-bagi daging Qurban sih, lalu habis itu? hah.. mulai jenuh lagi kan
kegiatan apapun, nanti seusai sholat jumat ada tugas bagi-bagi daging Qurban sih, lalu habis itu? hah.. mulai jenuh lagi kan
Lirik kanan, kiri, atap tembok semua... OMG, mungkin gini rasanya burung tinggal di kandang...
Tapi ada satu benda yang membuatku melirik lebih lama dan seakan berbicara dengan benda itu "Kau ini belum pernah maen kotor-kotoran sehabis DLT, Pergi nggak...?" Kemudian lirik mata ke arah Pegagus 3, mulai buka-buka Mbah Google, buka Maps... "Sip, ini aja.. Oi... siap kan? kita jalan kali ini" (sambil lirik si merah).
Hari itu masih sekitar pukul 10 pagi, masih ada 1,5 jam sebelum jumatan. Mulai cek Tenda, Pakaian ganti, kompor, nesting, matras, air, P3K, tali prusik 4 mm, topi, kompas, sendal, jaket... yups udah semua. Packing, dan.... "Ni tenda Pasaknya kemana ya..." Sedikit putus asa rasanya. Udah nggak apalah, entar nyari jari-jari motor aja di bengkel. Nggak terasa sudah hampir jam 11.30, Bergegas mandi, pakai sarung, Baju Rapi, cusss masjid.
Seusai Jumatan, saya kembali ke kosan sejenak untuk ganti pakaian. Hari ini saya ada tugas membagi daging Qurban. Pukul 15.30 seusai sholat Ashar daging mulai dibagi. Sekitar 30 menit semua danging sudah ludes terbagi. Saya berbincang dengan Mas Adi
D: "Mas, nanti ada acara nggak? besok juga sih"
A: "Nggak ada Mas, kenapa?
D: "Ayo naik Gunung Penanggungan Mas"
A: "Loh, kapan Mas?"
D: "Yo sekarang Mas"
A: "Yaudah ayo"
Akhirnya ada temen, Saya sama sekali belum pernah naik gunung dan saat perjalanan ke Tamiajeng (Jalur Pendakian Gunung Penanggungan) saya baru tau kalau Mas Adi juga belum pernah naik gunung. Kami mampir di mini market untuk beli Air dan sedikit cemilan. Dengan modal GPS Google Maps akhirnya sampai juga di Pos Tamiajeng.
Parkir di sini Rp 10.000, bayar dimuka. Lalu ke Pos Pendakian untuk laporan izin pendakian malam itu. Hanya tulis nama + bayar masuk 10rb/orang kami mendapat izin masuk. Sebelum masuk, kami mendapat arahan dari petugas mengenai rute dan aturan-aturan yang harus kami taati. Kalian harus menyiapkan 2 botol air/orang untuk pendakian Gunung Penanggungan. Di sini tidak ada sumber air kecuali di pos Pendaftaran.
Kami tidak langsung naik, mengisi perut di warung dengan Nasi+mie goreng+teh hangat. Sekitar pukuk 23.00 kami baru memulai pendakian. Sebelum kami naik,ada beberapa rombongan besar yang naik jadi kami pikir, akan serasa terlalu ramai jika kami berangkat saat itu. Saat diperjalanan, kami sempatkan mencari batang bambu kecil untuk pasak tenda nantinya.
Pos 1 ke Pos 2
Jalurnya masih landai, bahkan turun. Jalurnya berbatu, mesti berhati-hati karena jika jatuh pasti sangat sakit. Satu senter yang kami nyalakan hanya untuk berhemat sebenarnya. Tidak begitu lama kami sampai di Pos 2 berhadapan dengan warung-warung tutup malam itu. Kami tidak berhenti di sini, jalur masih panjang karena masih panjang untuk sampai di Puncak Bayangan.
Pos 2 ke Pos 3
Jalur mulai agak menanjak, tapi belum ekstreem. Masih cukup landai, bahkan ada jalan yang sudah tertata rapi untuk dilalui. Kontur jalan, tanah dan menurut saya jika hujan akan sangat becek. Sebelum Pos 3 kami berhenti sejenak untuk ngobrol dan minum. Ada rombongan yang sempat kami lewati, kini gantian menyalip kami. "Amit Mas" khas banget lah... hehehe (maaf ya kalau saya norak). Kami lanjut ke Pos 3 lalu beristirahat sejenak. Ternyata rombongan ini dari Jombang, anak pondok yang lagi liburan. Mereka udah pernah naik ke beberapa gunung (Kalau jauh saya... hahaha).
Secara tidak langsung mereka mengajak kami untuk bareng. Kami tidak menolak dan tidak juga menerimanya, tiba-tiba aja berjalan dalam rombongan cukup besar. Mereka sebenarnya cukup ramah, tapi bagi saya mereka terlalu berisik. Kami berhenti di pos 4, cukup lama di sini. Perbincangan mereka lebih ke guyonan remaja jaman Now yang tak tau etika. Mas Adi mengajak saya melanjutkan perjalanan, ternyata mereka juga lanjut.
![]() |
| Saya, Tenda dan Gunung Penanggungan di Puncak Bayangan |
Pos 4 ke Puncak BayanganMereka mulai berhenti lagi padahal belum ada 10 menit berjalan, saya dan Mas Adi memutuskan untuk terus melangkah. Pemandangan malam itu cukup indah bagi saya karena bintang, bulan dan kota kecil di selatan Gunung Penanggungan tampak gemerlap lampunya menampakkan suasana yang berbeda dari hari-hari biasanya. tidak ingat berapa lama kami berjalan, tapi ini cukup terjal hingga sampai ke puncak bayangan. Di sini kami hampir tidak memiliki lahan untuk mendirikan tenda, semua sudut terpenuhi tenda warna-warni. "Mas di sini aja, nanti saya yang atur. Mas Adi masuk pas tendanya sudah jadi, istirahat duluan aja nanti", ucap saya. 10 menit tenda telah berdiri tanpa pasak, iya tanpa pasak. Apa kalian ingat, di awal saya cerita bahwa saya tidak bawa pasak dan hanya menggunakan ranting bambu? di sini saya baru membuat pasak. Semua barang saya masukan, tapi saya tidak bisa tertidur karena takut telat subuh. Bikin kopi, dan menikmatinya sembari memandangi langit nan indah.
Puncak Bayangan ke Puncak
Sebenarnya Mas Adi ingin berburu matahari terbit, tapi dia malah terlelap lagi setelah subuh. Saya membuat mie untuk kami makan, sedikit mengelap muka dengan tisu basah dan cus ke Puncak. Kami berbekal biskuit dan 3/4 botol 1,5 liter air minum, serta barang yang tak pernah lupa untuk dibawa yakni P3K. Diperjalanan kami sebenarnya bisa sampai lebih cepat, namun ada rombongan kecil yang mungkin sedikit membutuhkan pertolongan kami. Bukan bermaksud sok pahlawan, kami menemani mereka hingga puncak begitu juga Mas Ihsan dan temannya (lupa namanya).
Rutenya berbatu dan pasir, bahanya jika ada batu jatuh seakan kayak di film 5cm. 1,5 jam kita sampai di puncak dan duduk berbincang dengan Mas Ihsan. Sempat ada seorang trail runner ke puncak dan kami sempat minta tolong di fotoin, masnya ramah dan humoris.
Gambaran Puncak sih penuh dengan rumput, ilalang, berpasir, ada cekungan di tengahnya serta ada sebuah makam di cekungan itu. Dari puncak kita bisa melihat gagahnya Arjuna, Welirang bahkan tampak dibalik awan sosok Semeru yang perkasa.
Ini adalah pertama kali saya benar-benar naik gunung dan sampai di puncak. Bagi saya, tidak heran begitu banyak orang ingin menikmati nikmatnya berada di atas sana, menurut saya prosesnya lebih menarik untuk dinikmati.
Note : kami turun jam 12.15, sampai bawah mungkin sudah jam 15.15an.
Foto Lainnya : Klik di sini
Rutenya berbatu dan pasir, bahanya jika ada batu jatuh seakan kayak di film 5cm. 1,5 jam kita sampai di puncak dan duduk berbincang dengan Mas Ihsan. Sempat ada seorang trail runner ke puncak dan kami sempat minta tolong di fotoin, masnya ramah dan humoris.
Gambaran Puncak sih penuh dengan rumput, ilalang, berpasir, ada cekungan di tengahnya serta ada sebuah makam di cekungan itu. Dari puncak kita bisa melihat gagahnya Arjuna, Welirang bahkan tampak dibalik awan sosok Semeru yang perkasa.
Ini adalah pertama kali saya benar-benar naik gunung dan sampai di puncak. Bagi saya, tidak heran begitu banyak orang ingin menikmati nikmatnya berada di atas sana, menurut saya prosesnya lebih menarik untuk dinikmati.
Note : kami turun jam 12.15, sampai bawah mungkin sudah jam 15.15an.
Foto Lainnya : Klik di sini
@2017, copyright Jejak Si Dhodhy
Krawak tuban - sumber air alami
September 25, 2017
Minggu, 6 Agustus 2017
Hari yang cerah pagi ini setelah pejalanan 4 jam kemarin sore dari Sidoarjo ke Tuban (rumah saya). Hari ini saya ada agenda untuk bersepeda/GOWES ke salah satu destinasi wisata di daerahku. Saya terakhir ke sini saat saya masih sekolah menengah pertama sekitar sepuluh tahun lalu. Setelah mengantar ibu ke pasar untuk berbelanja, mencuci sepeda dan sarapan saya memulai perjalanan ini.
Doa pagi ini saya berharap ada cerita indah yang dapat ku bagikan nanti. Pannier belakang sudah siap di sepeda, saya membawa kaos ganti, handuk, nesting, kompor, air dan kopi. Pisau dan tali perusik saya taruh di bagian luar. Saya harus bergegas sebelum cuaca semakin panas, karena jalan yang akan saya lalui sebagian besar di daerah persawahan.
08.45 saya mulai perjalanan saya, berpapasan dengan teman-teman saya. Saya menyusuri desa saya sekitar 5 menit lalu masuk ke area persawahan. Cuaca sangat cerah pagi ini, hampir tidak ada pemandangan lain selain sawah dan pegunungan kecil di sisi utara. Akhirnya saya sampai di desa Laju Kidul, jalanan sedikit lebih pelan saat melewati pasar menuju pertigaan Bakalan.
selepas itu, jalan sedikit menanjak -+ 200meter. terus mengayuh melewati pom bensin, persawahan lalu berjumpa dengan perempatan. di sini saya memilih lurus, sebenarnya ada dua jalur yang bisa di lalui, kiri atau lurus namun pada umumnya masyarakat memilih kiri ke arah Tuban. Saya lurus hingga masuk wilayah pasar Jojogan, dari sini saya belok ke kiri. Jalan naik curam,200 meter sebelum sampai di jalan raya Tuban - Singgahan saya memutuskan turun untuk berjalan kaki menuntun sepeda saya.
Saya menepi ke warung es sekitar 15 menit lalu melanjutkan perjalanan, jalanan datar kemudian naik turun melewati Air Terjun Nglirip, lanjut lagi kurang lebih 1,5 km masuk ke wilayah hutan. Setelah perbatasan Singgahan - Montong, ada jalanan turun di kanan jalan, saya masuk dengan sangat pelan. Mencari tempat yang bisa saya gunakan untuk parkir sepeda, dan setelah sepuluh tahun akhirnya saya ke sini lagi.
Saya melihat-lihat untuk mencari spot menaruh tas dan membuat kopi. saya mulai turun ke air, merasakan segarnya. kompor saya nyalakan untuk membuat kopi. setelah perjalanan satu setengah jam ku lalui semua terbayarkan. Tinggi air hanya 1 meter, tapi ini sangat segar untuk berenang.
Tiket Masuk = Gratis
Parkir Sepeda Motor = Anda cukup membeli jajanan di warung
Note : Sekarang ada wahana tubing di sini...
#Tuban
#VisitTuban
#VisitTuban2017
#EastJava
#JawaTimur
@2017, copyright Jejak Si Dhodhy
Hari yang cerah pagi ini setelah pejalanan 4 jam kemarin sore dari Sidoarjo ke Tuban (rumah saya). Hari ini saya ada agenda untuk bersepeda/GOWES ke salah satu destinasi wisata di daerahku. Saya terakhir ke sini saat saya masih sekolah menengah pertama sekitar sepuluh tahun lalu. Setelah mengantar ibu ke pasar untuk berbelanja, mencuci sepeda dan sarapan saya memulai perjalanan ini.
Doa pagi ini saya berharap ada cerita indah yang dapat ku bagikan nanti. Pannier belakang sudah siap di sepeda, saya membawa kaos ganti, handuk, nesting, kompor, air dan kopi. Pisau dan tali perusik saya taruh di bagian luar. Saya harus bergegas sebelum cuaca semakin panas, karena jalan yang akan saya lalui sebagian besar di daerah persawahan.
08.45 saya mulai perjalanan saya, berpapasan dengan teman-teman saya. Saya menyusuri desa saya sekitar 5 menit lalu masuk ke area persawahan. Cuaca sangat cerah pagi ini, hampir tidak ada pemandangan lain selain sawah dan pegunungan kecil di sisi utara. Akhirnya saya sampai di desa Laju Kidul, jalanan sedikit lebih pelan saat melewati pasar menuju pertigaan Bakalan.
selepas itu, jalan sedikit menanjak -+ 200meter. terus mengayuh melewati pom bensin, persawahan lalu berjumpa dengan perempatan. di sini saya memilih lurus, sebenarnya ada dua jalur yang bisa di lalui, kiri atau lurus namun pada umumnya masyarakat memilih kiri ke arah Tuban. Saya lurus hingga masuk wilayah pasar Jojogan, dari sini saya belok ke kiri. Jalan naik curam,200 meter sebelum sampai di jalan raya Tuban - Singgahan saya memutuskan turun untuk berjalan kaki menuntun sepeda saya.
Saya menepi ke warung es sekitar 15 menit lalu melanjutkan perjalanan, jalanan datar kemudian naik turun melewati Air Terjun Nglirip, lanjut lagi kurang lebih 1,5 km masuk ke wilayah hutan. Setelah perbatasan Singgahan - Montong, ada jalanan turun di kanan jalan, saya masuk dengan sangat pelan. Mencari tempat yang bisa saya gunakan untuk parkir sepeda, dan setelah sepuluh tahun akhirnya saya ke sini lagi.
Saya melihat-lihat untuk mencari spot menaruh tas dan membuat kopi. saya mulai turun ke air, merasakan segarnya. kompor saya nyalakan untuk membuat kopi. setelah perjalanan satu setengah jam ku lalui semua terbayarkan. Tinggi air hanya 1 meter, tapi ini sangat segar untuk berenang.
Tiket Masuk = Gratis
Parkir Sepeda Motor = Anda cukup membeli jajanan di warung
Note : Sekarang ada wahana tubing di sini...
#Tuban
#VisitTuban
#VisitTuban2017
#EastJava
#JawaTimur
@2017, copyright Jejak Si Dhodhy
Gowes jarak jauh (jakarta - subang)
September 25, 2017
Pagi itu, 31 Desember 2016 perjalanan ini bermula dari rencana tahun baru yang beda dari tahun-tahun sebelumnya. Ke mana Hamdi? Dia lagi pergi ke kampung halaman...
Agak telat, atau mungkin sangat telat... Kita mulai berangkat pukul 7 pagi saat matahari sudah memberikan kehangatan. Target kali ini adalah Subang, apa yang akan kita lakukan di sana? Hanya Hana yang tau. Masih seperti sebelumnya, Blacksun (Sepedaku) telah siap memulai petualangan ini. Tas belakang sudah terpasang, P3K air dan pakaian ganti serta alat-alat sederhana sepeda sudah bergelantung di stang.
Rute pertama Rawasari-Haji Ten-Kawasan Jeep - Klender. Pagi ini kita belum sarapan, saya mengatakan pada Hana paling lambat jam 8 kita harus makan. Mungkin kita ada di sekitar Klender. Sebelum jembatan Klender, kita berhenti untuk sarapan. Saya sudah mempelajari rutenya, ini perjalanan yang kering/panas dan pasti butuh banyak tenaga. Seusai sarapan kita menuju ke selatan arah Kalimalang.
Kalimalang jalur ekstreem yang sering terjadi hujan abu (hanya istilah), sekitar setengah jam perjalanan sampai di Bekasi. Berhenti berhenti untuk minum, lalu langkah kami menyusuri arah Cibitung. Hana tiba-tiba berhenti saat ada penjual jaket berjejer di sepanjang jalur ini. Perjalanan masih panjang, Hana membeli jaket.
Cuaca sangat terik, perjalanan berlanjut hingga perempatan Cibitung kita berhenti melihat Maps. Jalur yang akan kita lalui masih lurus ke arah Jababeka. Saya benar-benar buta arah, tapi perkiraan saya jalurnya akan sangat panas. Sesuai perkiraan, jalanan sangat panas Hana berhenti beberapa kali untuk minum, kita sampai di perempatan Cikarang.
Di sini kejadian salah jalur dimulai, nggak fatal bagi pengguna motor tapi goweser ini sangat parah. Kita masuk ke Jababeka, menyusuri jalan yang isinya pertokoan, rumah mewah, sekolah dll. Saya sudah agak lupa apa saya yang saya lihat, di sini kita berhenti sejenak untuk minum dan beristirahat. Saya melihat Google Maps, selanjutnya Stadion Wibawa Mukti lalu masuk ke tepian kali malang lagi.
Jalur ini serasa tanpa akhir, kita mulai melihat Stadion Wibawa Mukti. Megah, tapi cukup panas karena kurangnya pepohonan. Hampir sama dengan Stadion Pakansari keadaannya masih belum 100% sepertinya. Dari sini kita terus ke sisi selatan stadion kemudian masuk ke perkampungan.
Hana memberi kode bahwa dia sudah lapar, kami berhenti di sebuah Warteg (Warung Tegal). Menyusuri jalan ke Karawang masih sangat jauh, sangat sangat amat sangat. Saya sering melihat Google Maps di perjalanan ini untuk memastikan jalur yang kami lalui benar karena saya tidak mau waktu dan tenaga kami terbuang.
Saya menggunakan mode pejalan kaki, ternyata ini salah karena kami salah jalur. Kami melewati jalan setapak yang tidak memiliki jalur untuk sepeda kami lewat. Kembali ke arah jalan raya melalui jalur lain yang membuat kami kembali ke tepian kali malang. Jalur ini sangat panas, menghindari ban bocor saya mengurangi sedikit angin sepeda. Cukup lama kami gowes di sini hingga melihat sebuah perbatas yang menandakan kami masuk wilayah Karawang.
-- Es Kelapa yang menyegarkan
Sangat jauh atau mungkin karena pengaruh panas yang sangat menyengat? Entahlah tapi ini serasa sangat jauh. Saat diperjalanan saya melihat banyak warga sekitar yang menggunakan mobil pick up bak terbuka sebagai alat transportasi masal. Mungkin ini adalah salah satu alternatif transportasi yang ada dengan jarak ke kota lumayan jauh, baik ke Bekasi maupun ke Karawang.
Setelah singgah kurang lebih 15 menit, kami melanjutkan perjalanan. Kembali menyususri jalanan kota Karawang, kami sampai di sebuah jembatan yang agak panjang. Setelah jembatan kami belok kiri di sebuah pertigaan, hari mulai petang dan kemi belum sholat ashar. Kami berhenti untuk sholat ashar dan melihat-lihat peta beberapa kali untuk memastikan masih berapa jauhkah jarak yang akan kita tempuh. Kami masih sangat jauh dari Subang, meski hanya pinggirannya. Tapi ini adalah perjalanan paling menarik yang pernah saya lakukan, datang ke satu tempat yang biasanya saya laualui dengan kereta atau bus, kini saya melewatinya dengan sepeda. Mungkin saya agak gila dengan perjalanan tanpa tujuan ini.
Setelah mengayuh setengah jam, Hana mulai tampak lelah. Saya memutuskan untuk berhenti membeli Pocari Sweat, nggak tau kenapa ini serasa tenaga super atau mungkin pil dewa milik Son Goku yang sudah dicampur dengan ramuan dari ayahnya ChiChi. Kita terus mengayuh, masuk wilayah Cikampek, melewati stasiunnya dan mulai teringat sesuatu. "Biasanya naik kereta sampe sini 2 jam". Berlanjut lagi dan sesekali beristirahat, tidak ada yang cukup indah pemandangan di sini karena ini adalah jalur ramai Pantura. Sesekali minggir karena klakson Bus yang seakan menguasai pantura.
Kami mulai masuk wilayah Karawang, iya anda tidak salah baca ini adalah karawang ke dua. Kalau tidak salah, ini adalah Karawang Timur. Perjalanan terhenti kalai maghrib di sebuah mushola milik SPBU. Mengintip Maps "OMG" hahaha... udahlah ini gila, kayaknya perjalanan ini tak pernah sampai. Saya mulai memperhatikan Hana, dan sesekali bertanya "Han, lanjut nggak, kalau lanjut duluan" Ini karena sepeda hanya tidak memiliki reflektor sehingga berbaya jika ada kendaraan dari belakang. Dan dan dan, kami masuk wilayah Subang... Thank God
Tapi ini belum tujuan kita, Hana sudah mulai menyerah. Saya menghubungi Bagus yang kebetulan sedang ada di Cikampek, "Gus Posisi, Numpang nginep nih" dan tak lama kemudian dia membalas "Rumah Nenek gw, yaudah sini gih....(sambil shareloc)".... "Oke OTW, 1 jam"... "Siap"... Yups, saya bilang ke Hana untuk balik arah. Bukan tidak beralasan, tapi karena itu adalah satu-satunya cara untuk bisa tidur malam ini selain di POM ataupun Masjid. Kami sampai di rumah neneknya Bagus jam 10 malam, dengan wajah terheran-heran orang tuanya berkata "Gus nggak ikut, biar kurus"
Intinya malam itu kita menginap di Rumah Neneknya Bagus, keesokan paginya mulai berbenah dan melihat-lihat sawah yang sangat jarang terlihat di Jakarta. Udara pagi sangat sejuk khas Perdesaan. Kami tidak berencana pulang buru-buru tapi tidak ingin juga terlalu siang karena jalur yang kami lalui sangat panas. Perjalanan pulang lebih cepat, alasannya karena kita sudah tahu rute yang akan kami lalui. Hanya sedikit foto diperjalanan ini, ya sangat sedikit. Tapi apa yang kami rasakan akan selalu menjadi kenangan yang berarti.
"Be, mau peyem?" itulah kalimat pertama saat sampai di Kampus.
@D_Rahmaddi
Sangat jauh atau mungkin karena pengaruh panas yang sangat menyengat? Entahlah tapi ini serasa sangat jauh. Saat diperjalanan saya melihat banyak warga sekitar yang menggunakan mobil pick up bak terbuka sebagai alat transportasi masal. Mungkin ini adalah salah satu alternatif transportasi yang ada dengan jarak ke kota lumayan jauh, baik ke Bekasi maupun ke Karawang.
Setelah singgah kurang lebih 15 menit, kami melanjutkan perjalanan. Kembali menyususri jalanan kota Karawang, kami sampai di sebuah jembatan yang agak panjang. Setelah jembatan kami belok kiri di sebuah pertigaan, hari mulai petang dan kemi belum sholat ashar. Kami berhenti untuk sholat ashar dan melihat-lihat peta beberapa kali untuk memastikan masih berapa jauhkah jarak yang akan kita tempuh. Kami masih sangat jauh dari Subang, meski hanya pinggirannya. Tapi ini adalah perjalanan paling menarik yang pernah saya lakukan, datang ke satu tempat yang biasanya saya laualui dengan kereta atau bus, kini saya melewatinya dengan sepeda. Mungkin saya agak gila dengan perjalanan tanpa tujuan ini.
Setelah mengayuh setengah jam, Hana mulai tampak lelah. Saya memutuskan untuk berhenti membeli Pocari Sweat, nggak tau kenapa ini serasa tenaga super atau mungkin pil dewa milik Son Goku yang sudah dicampur dengan ramuan dari ayahnya ChiChi. Kita terus mengayuh, masuk wilayah Cikampek, melewati stasiunnya dan mulai teringat sesuatu. "Biasanya naik kereta sampe sini 2 jam". Berlanjut lagi dan sesekali beristirahat, tidak ada yang cukup indah pemandangan di sini karena ini adalah jalur ramai Pantura. Sesekali minggir karena klakson Bus yang seakan menguasai pantura.
Kami mulai masuk wilayah Karawang, iya anda tidak salah baca ini adalah karawang ke dua. Kalau tidak salah, ini adalah Karawang Timur. Perjalanan terhenti kalai maghrib di sebuah mushola milik SPBU. Mengintip Maps "OMG" hahaha... udahlah ini gila, kayaknya perjalanan ini tak pernah sampai. Saya mulai memperhatikan Hana, dan sesekali bertanya "Han, lanjut nggak, kalau lanjut duluan" Ini karena sepeda hanya tidak memiliki reflektor sehingga berbaya jika ada kendaraan dari belakang. Dan dan dan, kami masuk wilayah Subang... Thank God
Tapi ini belum tujuan kita, Hana sudah mulai menyerah. Saya menghubungi Bagus yang kebetulan sedang ada di Cikampek, "Gus Posisi, Numpang nginep nih" dan tak lama kemudian dia membalas "Rumah Nenek gw, yaudah sini gih....(sambil shareloc)".... "Oke OTW, 1 jam"... "Siap"... Yups, saya bilang ke Hana untuk balik arah. Bukan tidak beralasan, tapi karena itu adalah satu-satunya cara untuk bisa tidur malam ini selain di POM ataupun Masjid. Kami sampai di rumah neneknya Bagus jam 10 malam, dengan wajah terheran-heran orang tuanya berkata "Gus nggak ikut, biar kurus"
Intinya malam itu kita menginap di Rumah Neneknya Bagus, keesokan paginya mulai berbenah dan melihat-lihat sawah yang sangat jarang terlihat di Jakarta. Udara pagi sangat sejuk khas Perdesaan. Kami tidak berencana pulang buru-buru tapi tidak ingin juga terlalu siang karena jalur yang kami lalui sangat panas. Perjalanan pulang lebih cepat, alasannya karena kita sudah tahu rute yang akan kami lalui. Hanya sedikit foto diperjalanan ini, ya sangat sedikit. Tapi apa yang kami rasakan akan selalu menjadi kenangan yang berarti.
"Be, mau peyem?" itulah kalimat pertama saat sampai di Kampus.
@D_Rahmaddi









