Dhodhy Site.
to Share my Adventure and Life

Bromo Tour - Motor Dewean






Ini adalah hari yang baik untuk berbagi cerita dengan Anda, kali ini saya ingin mengundang Anda masih dalam pemandangan indah Jawa Timur. Saya ingin berbagi pengalaman saya dengan Bromo dengan sepeda motor.

Itu adalah hari Senin, 1 Mei 2017 adalah hari libur nasional atau biasa dikenal dengan #MayDay. Jalan-jalan di Surabaya dan Sidoarjo sudah mulai macet saat buruh dari daerah lain memusatkan tujuan mereka ke kantor gubernur Jawa Timur hari itu. Peralihan jalan dianggap sebagai solusi paling jitu dalam mengatasi kemacetan. Saya tidak suka macet, saya memilih untuk meninggalkan Sidoarjo mencoba tempat baru yang belum pernah saya kunjungi.

Memanfaatkan uang Rp 200.000, - Saya berangkat dengan motor lengkap dengan jaket dan sandal. Ada hal yang tak pernah saya lupakan saat meninggalkan kain khas suku Baduy yang saya beli November lalu. Pukul 8.00 pagi saya pergi dan tidak lupa sarapan pagi itu saya makan nasi pecel + teh panas seharga Rp. 9.000, lalu saya pergi ke pompa bensin untuk mengisi bensin.

Dalam perjalanan, saya mendengarkan radio melalui earphone saya untuk memastikan tidak ada kemacetan di tempat yang akan saya kunjungi. Dalam perjalanan ini saya pergi sendiri, begitu pula perjalanan saya yang lain. Bagi saya untuk pergi sendiri adalah satu hal yang bisa menciptakan kedamaian batin. Sebelumnya saya pernah ke Bogor sendiri dari Jakarta, sekitar Jakarta sendiri, ke Semarang sendiri, ke Malang sendiri dan beberapa tempat lainnya. Selalu ada cerita yang menenangkan.
Rute perjalanan saya kali ini ke Sidoarjo -> Porong -> Gempol maka saya akan menentukan arah saya nanti. Saya punya dua arah ke tempat tujuan saya, ke Malang atau timur ke Pasuruan. Saya memilih ke Pasuruan karena saya belum pernah ke sini, saya hanya ingin mencari tempat baru yang belum pernah saya kunjungi. Jalanan macet saat sampai di Pasuruan, banyak pemrotes yang baru saja tiba menggunakan sepeda motor, truk dan bus. Saya tidak ingat jam berapa saya tiba di Pasuruan, tapi rasanya sudah lama sekali.
Perjalanan saya terus ke Probolinggo, alasannya karena saya melihat tulisan Probolinggo pada baris yang sama. Senyum kecil tampak ke selatan dan sejenak melihat peta "Bromo ada disana". Tapi saya tetap tidak mau ke Bromo. Saya melanjutkan perjalanan saya ke Proboliggo dengan tujuan alun-alun dan masjid Probolinggo. Di jalan selama beberapa jam, akhirnya saya sampai di Kota Probolinggo. Melihat sekeliling alun-alun untuk mencari tempat dan tempat parkir saya melihat masjid. Saya memutuskan untuk pergi ke masjid untuk sholat dhuhur.


Es kelapa

Setelah sholat, motor saya diparkir di sekitar alun-alun. Nikmati es kelapa di alun-alun sambil berbicara dengan pedagang. Sambil mencari di internet, apa yang khas dari probolinggo. Saya menemukan bacaan menarik tentang kebun anggur di probolinggo, setelah membayar es saya lalu pergi. Di jalan-jalan Probolinggo yang berjejer atau lebih seperti labirin.

Tapi nampaknya saya tidak menemukan tempat saya akhirnya memutuskan untuk kembali ke Pasuruan karena besok pagi saya harus kerja. Tapi perjalanan ini belum berakhir, saya melihat sebuah papan dengan tulisan "Bromo" mengarah ke kiri. Tanpa berpikir lama, aku membelok ke kiri dan menyusuri jalan setapak yang sangat aneh bagiku. Beberapa saat jalan mulai menanjak, saya hampir kehabisan bensin di sini. Saya mengisi bensin saya dan melanjutkan perjalanan sampai akhirnya saya sampai di pintu masuk ke daerah Bromo. Di sini udara mulai mendingin meski matahari sore sangat cerah. Masuk berbayar dan saya mulai merasakan bisikan pasir Bromo kepada banyak orang. Saya targetkan pada jam 3 sudah turun karena saya tidak ingin terlalu gelap untuk bisa di jalan.

Pasir Berbisik

Di sini Anda harus berhati-hati, kemampuan mengemudi Anda benar-benar dalam ujian. Terkadang motor Anda akan bergoyang dan sulit dikendalikan. Saya di sini sampai jam 3.30 untuk kembali ke rumah setelah mengabadikan beberapa foto. Saya pulang ke rumah melalui jalur yang berbeda, kali ini saya akan coba langsung ke Pasuruan. Jalannya sangat curam, sangat tidak disarankan bagi pengguna matic. Kecelakaan sering terjadi karena motor tidak mampu memanjat atau tidak mampu menahan diri saat turun.
Dalam perjalanan pulang, saya dikelilingi oleh kabut yang mulai menyelimuti tempat ini. Aku harus cepat sebelum semuanya menjadi sangat dingin. Jalan ini benar-benar asing bagiku, seolah tak ada akhir. Aku sudah melewatinya cukup lama tapi belum keluar dari tempat ini. Saya berhenti berdoa di masjid ashar. Tak lebih dari 10 menit dari masjid, saya mulai menemukan jalan yang bagus untuk kembali ke Sidoarjo.
Saya sampai di Sidoarjo jam 7, lalu berhenti makan Soto ayam. Di jalan jika Anda bisa bersyukur semua akan cantik.


#DR

My Foto : Click Here










  •  
  •  
  •  
  • 0
  • July 25, 2017
Odhy Odhy Author

Followers

Contributors

Gowes cantik

Total Pageviews

Labels

Translate

Popular Posts